Sujud Syukur di Tengah Tantangan 2 Menit: Kisah Haru Bapak Tukang Parkir yang Menggugah Hati

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Sujud Syukur di Tengah Tantangan 2 Menit: Kisah Haru Bapak Tukang Parkir yang Menggugah Hati

Kota Medan, Sumatera Utara - (04/05/26) Di balik hiruk-pikuk perkotaan, ada sosok-sosok pejuang senyap yang setiap hari mengorbankan keringat dan waktu demi keluarga tercinta. Salah satunya adalah Bapak Rifki, seorang tukang parkir yang tak pernah lelah berjuang dari pagi hingga malam di pinggir jalan. Kisahnya menjadi sorotan setelah sebuah tantangan sederhana mengubah harinya secara ajaib. Tantangan dari Jestham bukan sekadar ajang belanja, melainkan sebuah pengingat bahwa rezeki Tuhan bisa datang dari arah yang paling tidak disangka.



"Bang, kalau saya ada rezeki, Abang belanja di dalam selama 2 menit mau enggak?" tanya Jestham. Dengan mata berbinar, Bapak Rifki yang kesehariannya mengenakan rompi parkir itu pun menyanggupi. Tantangan dimulai, 2 menit untuk mengambil sebanyak mungkin kebutuhan pokok di dalam toko. Jestham pun berteriak memacu semangat, "Cepat, Bang! Lari, Bang!" Bapak Rifki yang tampak canggung namun bersemangat pun bergegas, memenuhi keranjang dengan beras, minyak goreng, gula, sabun, hingga mi instan dan jajan anak-anak.



Begitu waktu habis, Bapak Rifki yang sudah lelah berlari-lari kecil itu langsung sujud syukur di tengah toko. "Alhamdulillah, alhamdulillah, Ya Allah," ucapnya berulang kali dengan suara parau. Sujud itu bukan hanya karena tumpukan barang belanjaan, tetapi karena kesadaran bahwa doa-doa yang ia panjatkan selama ini terjawab sudah. Momen itu menjadi bukti nyata bagaimana rasa syukur dapat meluap dari hati yang paling sederhana namun penuh keikhlasan.


Sujud Syukur Bapak Rifki
Sujud Syukur Bapak Rifki

Percakapan setelah tantangan semakin menguak kerasnya kehidupan yang ia jalani. Jestham bertanya, "Dari jam berapa, Pak?" Dengan polos Bapak Rifki menjawab, "Dari jam 8 pagi sampai jam 8 atau jam 9 malam." Selama belasan jam ia berdiri, tetapi penghasilannya tak pernah pasti. "Enggak tentulah, Bu. Kadang 60, kadang 50," akuinya. Bayangkan, kadang hanya Rp50.000 per hari untuk menghidupi istri, dua anak, serta kedua orang tuanya yang sudah hampir berusia 80 tahun. Tanggung jawab besar itu ia pikul seorang diri tanpa mengeluh sedikit pun.



Puncak haru terasa ketika Bapak Rifki berbagi tentang mimpinya yang paling sederhana sebagai seorang ayah. Jestham bertanya apakah ia pernah membawa anak-anaknya makan bersama. Bapak Rifki pun menceritakan bahwa terakhir kali ia bisa mengajak anak-anaknya makan adalah saat menerima gaji dari pekerjaan lamanya. "Gaji Rp1.200.000 sebulan. Itulah saya bawa makan mereka, saya belikan apa semua," kenangnya. Setelah resign karena sakit, ia sudah lama tak bisa merasakan kebahagiaan sederhana itu. Cerita ini membuat siapa pun yang mendengarnya tersentuh, bahwa kebahagiaan sekecil mengajak anak makan di luar bisa menjadi kemewahan luar biasa bagi sebagian orang.



Tak berhenti di situ, Jestham yang terharu kemudian memberikan rezeki tambahan kepada Bapak Rifki. "Ini mana tahu Bapak mau gunakan untuk bawa anak pergi makan, boleh ya, Bapak ya?" tawarnya lembut. Dengan mata berkaca-kaca, Bapak Rifki kembali mengucap syukur. Ia pun menyampaikan pesan untuk kedua putrinya, "Kalian siap-siap lah ya, yang baik sekolahnya rajin-rajin. Ini ada rezeki nanti kalau Bapak pulang mudah-mudahan berguna untuk kalian ya, Nak," pesannya dengan suara bergetar.



Bapak Rifki adalah cerminan dari jutaan pejuang keluarga di luar sana yang gigih bekerja tanpa mengenal lelah. Semangatnya yang pantang menyerah, kesederhanaannya, dan kedalaman rasa syukurnya menjadi pelajaran bagi kita semua. Terkadang, rezeki memang datang dalam bentuk yang tak terduga, dan sujud syukur adalah bentuk pasrah dan terima kasih paling tulus kepada Sang Maha Pemberi.