Tangis Bahagia Penjual Es Krim! Dapat Kejutan Tak Terduga dari Jestham

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Tangis Bahagia Penjual Es Krim! Dapat Kejutan Tak Terduga dari Jestham


Medan Sunggal, Kota Medan - (19/08/25) Di tengah teriknya sang surya, sebuah pertemuan tak terduga terjadi. Jestham yang dikenal dengan konten kebaikannya, tanpa sengaja bersua dengan seorang Bapak penjual es krim keliling. Aura kebaikan dan keramahan yang terpancar dari sang Bapak begitu kuat, langsung menarik perhatiannya. Dengan senyum yang tulus, Jestham pun mendekat untuk membeli beberapa buah es krim, membuka pintu bagi sebuah interaksi yang penuh makna.



Percakapan hangat segera terjalin. Dengan penuh semangat, Bapak tersebut menjelaskan pilihan es krimnya yang berharga Rp 2.000, Rp 3.000, hingga Rp 5.000. Jestham memilih empat buah es krim seharga Rp 5.000 masing-masing agar bisa "puas makannya". Saat ditanya sudah berapa lama berjualan, jawaban sang Bapak sungguh di luar dugaan, sejak tahun 1985. Sebuah perjalanan panjang yang bahkan telah dimulai sebelum Jestham lahir.



Alasan di balik semangatnya yang tak pudar itu sederhana namun sangat mulia, untuk keluarga. Bapak yang telah berusia 60 tahun ini mengais rezeki untuk membiayai pendidikan ketiga anaknya. Dua di antaranya masih menempuh pendidikan tinggi, masing-masing di semester 8 dan semester 6. Sang Istri juga turut berjuang dengan menjadi guru TK. "Pokoknya kita harus semangat demi anak, demi keluarga," ujarnya dengan mata berbinar, sebuah filosofi hidup yang begitu menyentuh hati.


Ketulusan dan Cinta Seorang Ayah 
Ketulusan dan Cinta Seorang Ayah 

Tak hanya gigih, Bapak ini juga sangat mandiri. Ternyata, semua es krim lezat dalam gerobaknya adalah buatan tangannya sendiri. Ia membuat dan menderetkannya dengan penuh kebanggaan. Jestham pun takjub melihat hasil karyanya yang warna-warni dan cantik. Untuk menjaga semangat dan kesehatan, Bapak ini mengaku sengaja banyak berbicara dan bercanda dengan pembeli agar tidak mengantuk dan selalu awet muda.



Melihat ketulusan dan perjuangan tanpa keluh kesah itu, hati Jestham tergerak untuk melakukan lebih. Setelah akan membayar es krim seharga Rp 30.000, Jestham justru memberikan uang berkali lipat dari yang seharusnya sambil berkata, "Enggak apa-apa, Pak. Rezeki hari ini dari Tuhan."



Reaksi sang Bapak sungguh mengharukan. Bukannya langsung bergembira, beliau justru terlihat terkejut dan matanya berkaca-kaca. Dalam kebingungan dan rasa haru yang mendalam, Ia hanya mampu berkata, "Makasih banyak, Kak." Perasaan overwhelmed-nya Ia ungkapkan dengan jujur, "Terkejut gini lah. Macam mana susahnya cari duit kan sekarang?" Baginya, pemberian itu adalah rezeki yang sangat besar dan tak terduga.



Jestham menghiburnya, menyatakan kekagumannya pada semangat dan senyuman yang tak pernah lepas dari wajah sang Bapak. "Yang penting kita semangat aja," balas Jestham, memberikan dukungan moral. Doa-doa tulus pun mengalir dari sang Bapak untuk kebaikan Jestham, "Amin, Kak. Amin," ujarnya berulang kali sambil masih tak percaya dengan kemurahan hati yang diterimanya.



Momen kebahagiaan yang sederhana namun sangat mendalam ini menjadi bukti bahwa kebaikan sesama memiliki kekuatan yang dahsyat untuk saling menguatkan. Pertemuan ini bukan sekadar tentang pemberian uang, tetapi tentang sebuah apresiasi, rasa hormat, dan energi positif yang diberikan kepada seorang pejuang kehidupan. Bagi siapa pun yang membaca, cerita ini adalah pengingat manis bahwa di balik setiap senyuman tulus, seringkali tersimpan perjuangan yang patut dihargai, dan sedikit kebaikan kita bisa berarti sangat besar bagi orang lain.