30 Tahun Menanti: Kisah Nahan, Pak Tua Becak yang Merindukan Pulang Sang Anak

30 Tahun Menanti: Kisah Nahan, Pak Tua Becak yang Merindukan Pulang Sang Anak
Kota Medan, Sumatera Utara - (30/01/26) Di sebuah sore yang mungkin terasa biasa bagi banyak orang, sebuah pertemuan kecil terjadi di sebuah pinggir jalan. Seorang lelaki tua dengan tubuh renta dan baju bolong di bagian belakang tampak malu-malu ketika dimasukkan ke dalam sebuah tantangan belanja gratis oleh Jestham. Namanya Pak Nahan, usianya 64 tahun. Namun, di balik kerutan di wajah dan raut letihnya, tersimpan sebuah luka yang tak pernah sembuh selama tiga puluh tahun terakhir, kepergian anak satu-satunya yang tak pernah kembali.
Ketika ditanya tentang anaknya, pertanyaan sederhana itu langsung menusuk. Pak Nahan menjawab dengan polos namun menyayat hati. Anaknya sudah pergi jauh selama tiga puluh tahun. Tiga dekade bukan waktu yang singkat. Dalam rentang waktu itu, Pak Nahan sudah melewati ribuan hari sendirian, tanpa kabar, tanpa suara, tanpa kepastian. Ia bahkan sudah tidak ingat lagi nama anaknya. Bukan karena tak sayang, tapi karena waktu yang terlalu lama telah memudarkan ingatan, meski rasa rindu tetap utuh mengakar di dadanya.

Awal perbincangan terasa ringan. Pak Nahan diajak berbelanja di sebuah minimarket dengan durasi waktu dua menit. Ia diperbolehkan mengambil apapun yang ia butuhkan. Namun, meskipun diberi kebebasan, Pak Nahan tampak canggung. Ia hanya mengambil beberapa barang, seperti beras dan telur, dengan gerakan lambat dan penuh hati-hati. Ada rasa sungkan dari dirinya, seolah ia tidak ingin merepotkan. Namun, Jestham yang mendampinginya terus mendorong dengan lembut, membantunya memilih kebutuhan-kebutuhan pokok yang memang ia perlukan.
Perlahan, suasana berubah. Dari sekadar belanja, percakapan mulai merambah ke kehidupan Pak Nahan sehari-hari. Ia mengaku sehari-hari menarik becak. Penghasilannya tak seberapa, hanya sekadar cukup untuk makan. Bahkan, tak jarang ia harus melewatkan waktu makan karena tak punya uang. Rumahnya sepi. Tak ada istri yang menemaninya, dan anak satu-satunya telah hilang dari hidupnya tanpa jejak. “Sendirian, tidak ada teman. Sakit nggak ada yang mengurus,” ucapnya lirih, menggambarkan betapa sunyinya hidup yang ia jalani.

Puncak emosi terjadi ketika pertanyaan demi pertanyaan menggali lebih dalam tentang perasaan seorang ayah yang ditinggalkan. Ketika ditanya, “Kalau anak nonton, apa yang ingin Bapak bilang?” Pak Nahan terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara yang bergetar namun penuh makna, “Pulanglah, Bapak rindu. Bapak selalu rindu, Bapak rindu kamu. Baik-baik di sana.” Kalimat-kalimat pendek itu keluar dari seorang lelaki yang mungkin tak pernah pandai merangkai kata, tapi menyimpan kerinduan di dalam hatinya.
Meski hidup dalam kekurangan, kebaikan tetap bersemayam di hati Pak Nahan. Ketika diberikan uang atau rezeki lebih, ia sempat menolak dan merasa cukup dengan apa yang sudah diberikan. Ia tak mau mengambil terlalu banyak, khawatir orang lain yang memberinya menjadi keberatan. Sifat inilah yang justru membuat banyak orang terharu. Di tengah keterbatasan, ia tidak menjadi tamak. Ia hanya ingin bisa bertahan hidup, dan di usia senjanya, mungkin satu-satunya yang benar-benar ia rindukan bukanlah harta, melainkan sosok anak yang dulu pernah ia gendong dan besarkan.

Kisah Pak Nahan adalah potret dari ribuan lansia di penjuru negeri yang ditinggal pergi oleh anak-anaknya, baik karena alasan merantau, maupun karena ikatan yang telah lama putus. Dalam kesendiriannya, ia tetap menjalani hari dengan menarik becak, meski punggungnya kian membungkuk. Di akhir perjumpaan itu, Jestham yang membantunya pamit dengan membawakan belanjaan untuk Pak Nahan. Ucapan dan penutup doa seperti “Sehat-sehat selalu ya, Pak” mungkin tidak bisa menggantikan sosok anak yang telah lama hilang. Tapi setidaknya, untuk sesaat, Pak Nahan tidak merasa sendirian.







