Ayah Penjaga Malam dan Pemulung yang Berjuang Demi Dua Periuk: "Saya Harus Capek, Biar Anak Tak Kelaparan"

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Ayah Penjaga Malam dan Pemulung yang Berjuang Demi Dua Periuk: "Saya Harus Capek, Biar Anak Tak Kelaparan"

Kota Medan, Sumatera Utara - (08/02/26) Seorang Bapak paruh baya tengah beristirahat ketika didatangi oleh Jestham yang membawa kabar baik. "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan. Belanja sembako sepuasnya mau enggak?" tanya Jestham dengan ramah. Namun sebelum menjawab, Bapak itu tersenyum tipis seolah mengingat sesuatu, ia mengakui bahwa sebelumnya pernah mendapatkan kesempatan serupa dari Jestham. Jestham pun tersenyum dan menjawab, "Rezeki berarti ya, Bapak ya. Alhamdulillah." Ketika ditanya kebutuhan paling mendesak di rumah, sang Bapak menjawab jujur, "Beras, Bu. Beras enggak ada." Momen ini menjadi pintu masuk untuk melihat lebih dekat bagaimana kerasnya perjuangan seorang ayah yang sehari-harinya bekerja sebagai penjaga toko dan pemulung.



Jestham pun mengajak Bapak itu untuk berbelanja selama dua menit di dalam minimarket. Bapak itu segera bergegas, matanya terfokus pada rak-rak berisi kebutuhan pokok. "Beras! Ambil yang banyak, Pak!" teriak Jestham. Tangannya bergerak cepat mengambil telur, roti, dan susu. Baginya, mengisi perut anak-anak adalah prioritas mutlak. Hitungan mundur pun tiba, dan ketika waktu habis, ia hanya tertawa lega sambil menghela napas, tak lupa melakukan sujud syukur di lantai minimarket tersebut.



Di balik semangat belanjanya, tersimpan kisah hidup yang jauh dari mudah. Bapak itu sebenarnya bekerja malam hari sebagai penjaga toko dengan gaji hanya lima puluh ribu rupiah per malam. "Satu malam gaji 50 ribu, belanja aja udah habis," ungkapnya. Karena tidak cukup, di siang hari ia menjadi pemulung. Ia mengais botol-botol bekas yang kini harga jualnya anjlok. "Dulunya botol masih Rp5.000 per kilo, sekarang cuma Rp2.500. Nyari aja udah sulit, persaingan di jalan banyak," keluhnya. Namun ia tidak punya pilihan. Dari hasil mulung itulah ia berusaha membayar sewa rumah dan kebutuhan anak-anaknya yang masih sekolah. Jestham hanya terdiam mendengar penuturan itu, hatinya terenyuh melihat perjuangan Bapak yang tak kenal lelah.



Sulitnya kehidupan semakin terasa ketika ia mengakui bahwa di rumah pernah dua hari berturut-turut tidak ada nasi. "Sampai utang beras sama tetangga," ceritanya dengan mata menerawang. Dalam masa-masa sulit itu, ia tetap harus membagi penghasilan tipisnya untuk keluarga sebagaimana ia menyebutnya. "Saya punya tanggung jawab di sini dan di sana. Gaji cuma 50 ribu, gimana membaginya?" ujarnya dengan suara sedikit bergetar. Sang istri juga ikut mencari tambahan di pagi hari, sementara ia sendiri baru bisa tidur setelah anak-anaknya beristirahat. Jestham bertanya apakah ia tidak merasa lelah, dan Bapak itu hanya menggeleng pelan.



Meskipun tubuhnya lelah, semangatnya tidak pernah padam. Ia masuk kerja malam jam 12.30 dan pulang jam 7 pagi, lalu bangun lagi jam 11 siang untuk mencari botol bekas. "Itu kewajiban, Bu. Biarkan saya capek, tapi jangan sampai dosa anak enggak makan, istri enggak makan," tegasnya. Ia sadar bahwa sebagai ayah, ia harus mengimbangi semua kebutuhan meskipun seringkali hampir patah. "Memang harus capek. Tapi demi anak, istri, enggak apa-apa. Saya siap kok," katanya, berusaha menyembunyikan stres yang sebenarnya terus menghantuinya. Jestham pun bertanya apa yang paling sulit menjadi seorang ayah, dan ia menjawab singkat, "Beban hidup, Bu."



Harapan terbesarnya hanyalah untuk anak-anaknya. "Ayah ingatkan kalian, rajin-rajin sekolah. Lihat ayah mencari uang kayak gini. Mudah-mudahan jangan jadi kayak ayah lagi. Lebih bagus dan lebih baik." Ia bermimpi anak-anaknya bisa tamat sekolah dan bekerja lebih layak darinya. "Walaupun cita-cita mereka jadi tentara mungkin enggak terkabul karena ayah tak sanggup kuliahin, setidaknya mereka punya ijazah, punya ilmu, bisa kerja di mana saja," ucapnya lirih. Ia tidak menuntut lebih, cukup bagi anak-anaknya tidak hidup seperti dirinya sekarang. Jestham hanya mengangguk-angguk, ikut merasakan getirnya doa seorang ayah yang berjalan sendirian demi masa depan anak-anaknya.



Di akhir pertemuan, Jestham menyodorkan rezeki lebih untuk keperluan baju dan buku sekolah. "Saya nggak hitung tadi berapa. Tapi saya harap ini bisa bantu untuk keperluan Bapak sama anak-anak," kata Jestham. Bapak itu pun teringat pada anak-anaknya. "Bang Arief, ini ada duit rezeki-rezeki buat bayar uang sekolah kalian nanti, buat baju sekolah ya. Semoga sekolah baik-baik ya, Nak," ucapnya dengan penuh harapan. "Alhamdulillah, terima kasih Bu. Terima kasih, Jestham," katanya dengan mata berkaca-kaca. Di balik senyum sederhana Bapak pemulung itu, tersirat perjuangan yang tak kenal lelah. Ia mungkin hanya seorang penjaga malam dan pemulung, tetapi cintanya kepada anak-anak membuatnya setara dengan pahlawan mana pun. Kisahnya mengingatkan kita bahwa rezeki tak selalu berbentuk harta, melainkan juga keteguhan hati seorang ayah yang berjalan sendirian dalam gelapnya malam, hanya demi melihat senyum anak-anaknya di pagi hari.