Kisah Haru Pengemudi Ojol: Dari Keputusasaan Hingga Air Mata Kebahagiaan

Kisah Haru Pengemudi Ojol: Dari Keputusasaan Hingga Air Mata Kebahagiaan
Kota Medan, Sumatera Utara - Di tengah hiruk-pikuk perkotaan yang seringkali melupakan mereka yang berjuang di jalanan, sebuah kisah menyentuh terjadi antara seorang pengemudi ojek online dengan Jestham. Momen ini terekam dalam sebuah video yang dengan cepat menyentuh hati banyak orang, menggambarkan dengan gamblang bagaimana sebuah kebaikan kecil mampu mengubah hari kelam seseorang menjadi momen yang tak terlupakan.
Bapak ojol ini tampak dalam kondisi yang memprihatinkan. Dengan suara yang bergetar dan nafas tersengal, ia mengungkapkan bahwa dirinya bahkan belum sempat menikmati makan siang. "Makan siang aja aku belum, Kak," ujarnya dengan nada yang menggambarkan kepenatan. Kehidupannya sebagai pengemudi ojol, ditambah dengan tanggungan keluarga, membuat setiap harinya harus diperjuangkan dengan keras.
Ada satu pengakuan yang membuat hati siapapun yang mendengarnya tersentuh. Bapak ojol itu dengan jujur mengatakan bahwa anak dan istrinya pun belum makan. "Aku enggak makan anak istriku belum makan," katanya dengan nada getir. Bayangan tentang keluarganya yang menunggu di rumah dengan perut kosong jelas menjadi beban berat yang ia pikul setiap hari. Bahkan sepeda motor yang ia gunakan untuk mencari nafkah pun ternyata merupakan sewaan dengan biaya Rp65.000 per hari, dan ia harus membayarnya meskipun penghasilan yang didapat tidak menentu.

Di tengah keputusasaan, Jestham berniat membantu dengan membelikan sembako. Namun, momen yang paling mengharukan terjadi ketika Bapak ojol tersebut memberanikan diri untuk menyampaikan sebuah permintaan yang terasa canggung. Dengan penuh kerendahan hati, ia mengaku lebih membutuhkan uang tunai dibandingkan barang sembako. "Kalau berbentuk uang gitu, Kak, aku bisa kasih sama istri dia bisa nutupi yang di warung," katanya dengan nada hampir berbisik, takut menyinggung perasaan Jestham. Ia menjelaskan bahwa istrinya telah berhutang di warung, dan uang tersebut akan sangat membantu untuk menutupi utang-utang tersebut.
Tanpa ragu, Jestham mengajaknya tetap berbelanja sembako sambil memahami kebutuhan mendesak Bapak itu. Proses belanja yang berlangsung selama sekitar dua menit menjadi pemandangan yang mengesankan. Dengan penuh semangat dan kegembiraan yang sulit disembunyikan, Bapak itu berlarian mengambil beras, minyak goreng, Indomie, hingga jajanan untuk anak-anaknya. "Waduh, banyak betul mimpi apa aku tadi malam," ucapnya dengan suara bergetar, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.

Air mata kebahagiaan pun tak terbendung saat ia menyadari bahwa semua kebutuhannya terpenuhi. Ia menceritakan bagaimana selama ini keluarganya hanya bisa makan tempe dan tahu, sementara anaknya sering mengeluh bosan dengan menu yang itu-itu saja. Namun, istrinya selalu mengajarkan untuk bersyukur atas apapun yang ada. "Syukuri aja, katanya," kenangnya sambil terisak. Kini, dengan beras, minyak, mi instan, dan berbagai bahan pokok lainnya, ia bisa membawa pulang kebahagiaan untuk keluarganya. Momen ini terasa seperti mimpi yang nyata.
Sebagai seorang yang beragama Hindu, ia memanjatkan doa dengan penuh rasa syukur. "Dalam agama Hindu tuh puji Sri Krishna," ucapnya sambil terus mengucapkan terima kasih. Ia berdoa semoga usaha Jestham selalu dilancarkan dan sukses. "Aku enggak bisa balas, Tuhanlah yang balas kebaikan kakak," katanya dengan penuh ketulusan. Doa ini menunjukkan bahwa kebaikan yang diberikan telah menyentuh hati dan menimbulkan rasa syukur yang mendalam, jauh melampaui nilai materi yang diterimanya.
Sebuah pengingat bahwa rezeki datang dari berbagai arah, dan kebaikan akan selalu berbuah kebaikan. Seorang pengemudi ojol yang setiap harinya berjuang di jalanan, dengan segala keterbatasan dan tanggungan keluarga, tetap berusaha memberikan yang terbaik, ia membawa pulang bukan hanya sembako, tetapi juga kebahagiaan yang tak ternilai harganya. (08/07/2026)







