“Banggain Orang Tua”: Ketika Usia 12 Tahun, Muslim Maulana Pilih Jual Kerupuk Demi Keluarga

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

“Banggain Orang Tua”: Ketika Usia 12 Tahun, Muslim Maulana Pilih Jual Kerupuk Demi Keluarga

Kota Medan, Sumatera Utara - (25/02/26) Malam hari yang mulai larut, ketika kebanyakan anak seusianya tengah asyik bermain gawai atau menonton televisi di rumah, Muslim Maulana masih setia berjalan menyusuri pinggir jalan dengan memikul dagangannya. Kerupuk-kerupuk itu digantungkan pada sebatang kayu yang ia letakkan di pundaknya. Dari kejauhan, Jestham melihat seorang anak kecil berdiri di pinggir jalan dengan pikulan di bahunya. Ia pun menghampiri dan bertanya, "Halo, berapa satu kerupuknya, Dek?" "Lima ribu satu," jawab Muslim singkat. Percakapan sederhana itu lambat laun membuka kisah hidup yang jauh dari kata biasa untuk anak seusianya.



Muslim Maulana baru menginjak usia 12 tahun. Namun, dunia yang ia hadapi bukan lagi sekadar bangku sekolah dan waktu bermain. Malam itu, saat jam menunjukkan pukul 20.30 WIB, ia masih berada di pinggir jalan berjualan. Dengan pikulan di pundaknya, ia berdiri dan menanti pembeli yang datang. Ketika Jestham bertanya mengapa ia bekerja di malam hari, jawaban Muslim begitu dewasa sekaligus mengharukan, "Bantu mama." Dua kata itu menjadi penggerak utama setiap langkah kecilnya di tengah gelapnya jalanan.



Meski tergolong murah, kerupuk yang ia jual adalah sumber penghidupan. Jestham kemudian berniat memborong semua dagangan Muslim. "Berapa kalau borong semuanya?" tanya Jestham. "Seratus sepuluh ribu," jawab Muslim. Jestham pun mencoba menawar, "Boleh diskon dikit?" Dengan polosnya Muslim menjawab, "Enggak boleh, Kak. Takut kena marah bos nanti." Jestham hanya tersenyum mendengar kejujuran anak itu. Muslim belajar sejak dini bahwa dalam berdagang, harga yang sudah ditetapkan adalah harga mati, meski ia hanya seorang anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah.



Jestham kemudian bertanya lebih dalam. "Bapak masih ada?" Muslim menjawab dengan suara pelan namun jelas, "Bapak enggak ada lagi. Sudah meninggal." Ayahnya telah tiada. Sejak saat itu, Muslim menjadi tulang punggung kecil bagi keluarganya. Ia anak pertama dari dua bersaudara. Hanya ada ia, adik, dan ibunya yang juga berjualan kerupuk.



Yang paling menyentak hati adalah ketika Jestham bertanya tentang cita-citanya. Anak-anak seusianya mungkin bercita-cita menjadi pilot, polisi, atau dokter. Tapi Muslim Maulana menjawab dengan sederhana, "Banggain orang tua." Luar biasa. Bukan sekadar profesi, melainkan sebuah tekad untuk membuat ibunya tersenyum dan keluarganya bangga. Itulah mimpi paling sederhana namun paling mulia yang ia genggam erat di sela-sela jualannya yang kadang belum laku banyak.



Setelah membeli semua dagangan, Jestham memberikan sejumlah uang dan berpesan, "Ini uangnya simpan ya, nanti nampak orang." Muslim pun menerima dengan penuh rasa hormat. Jestham juga mengingatkan Muslim untuk tetap salat dan tidak lupa berdoa. "Ibu doakan kamu jadi orang sukses nanti ya," ucap Jestham. Muslim menjawab lembut, "Amin." Percakapan diakhiri dengan salam dan pesan sederhana, "Titip salam sama mama ya. Ibu permisi dulu ya." Muslim tersenyum lebar. Hari itu dagangannya habis terjual. Ia pun bergegas pulang dengan langkah ringan tanpa memikul beban, karena semua kerupuk sudah dibawa oleh Jestham. Senyum bahagia terukir di wajah mungilnya.



Di tengah segala keterbatasan, dengan hanya bermodalkan sebatang kayu dan kerupuk yang dipikul di pundaknya, ia tetap bersekolah, berjualan, dan bermimpi untuk membanggakan orang tuanya. Ia tidak mengeluh tentang waktu bermain yang hilang, karena baginya kebahagiaan keluarga adalah hadiah terbesar. Mungkin suatu hari nanti, Muslim akan benar-benar menjadi orang sukses, bukan hanya sukses dalam harta, tetapi sukses dalam hati. Karena di usianya yang ke-12, ia telah mengajarkan arti perjuangan sejati kepada kita semua.