“Bayar Naik Becak dengan Belanja”: Ketika Dua Menit Mengubah Beban Seorang Bapak Tua Menjadi Harapan

“Bayar Naik Becak dengan Belanja”: Ketika Dua Menit Mengubah Beban Seorang Bapak Tua Menjadi Harapan
Kota Medan, Sumatera Utara - (13/02/26) Seorang Bapak tua yang sudah berusia 64 tahun masih bertahan menjadi tukang becak di tengah sulitnya ekonomi. Hari itu, ia bertemu dengan Jestham yang menjadi penumpang becaknya. Tapi kemudian, Jestham melihat kesempatan untuk berbuat sesuatu yang lebih berarti. Jestham lalu bertanya kepada Bapak itu, "Pak, kalau bayar becaknya tidak pakai uang, tapi Bapak boleh belanja sepuasnya di dalam, mau tidak?"
Bapak itu kaget tetapi jelas terlihat senang. Jestham bertanya soal kebutuhan paling penting di rumah. Tanpa berpikir lama, Bapak itu menjawab, "Beras." Menurutnya, beras adalah kebutuhan nomor satu untuk dapur. Jestham lalu mengajak Bapak itu masuk ke dalam toko. Jestham memberi waktu dua menit. "Bapak boleh ambil barang apa saja. Masukkan ke keranjang. Ini rezeki dari Tuhan untuk Bapak hari ini," kata Jestham.

Begitu hitungan dimulai, Bapak itu berusaha bergerak secepat mungkin. Tubuhnya memang sudah tidak kuat lagi, tapi ia tetap berusaha. Jestham terus menyemangati dari belakang, "Ambil telur pak! Ambil indomie! Jangan ragu-ragu! Cepat pak!" Bapak itu mengambil beras, telur, mie instan, dan makanan pokok lainnya. Meskipun becaknya sudah tua dan rusak, Bapak itu hanya berkata, "Gak apa-apa becaknya." Yang penting ia bisa membawa pulang makanan untuk kebutuhan sehari-hari.
Setelah dua menit selesai, keranjang Bapak itu sudah penuh. Tapi di balik kebahagiaannya, cerita sedih mulai terungkap. Jestham bertanya, "Bapak sudah makan belum?" Bapak itu menjawab jujur, "Belum. Cari makan sekarang susah sekali." Ia juga mengaku sedang sakit. Gula darahnya naik. Tapi ia tidak bisa berobat karena tidak punya uang.

Jestham kemudian bertanya soal keluarga. Ternyata istri Bapak itu sudah meninggal. Ia hidup sendirian di kota. Anak-anaknya ada di kampung. Meskipun hidup serba kekurangan, Bapak itu tetap menyisihkan uang untuk dikirim ke anak-anaknya. "Kalau dapat kiriman, saya kirim ke kampung," ujarnya. Ketika ditanya bagaimana rasanya hidup sendiri, Bapak itu menjawab dengan lirih, "Susah. Tidak ada yang menjaga. Kesepian. Berobat pun sendiri pergi."
Bapak itu lalu mengungkapkan sesuatu yang membuat suasana semakin haru. "Bertahun-tahun saya ikut kegiatan seperti ini, tapi saya tidak pernah dapat seperti ini. Belum pernah," katanya. Jestham yang mendengar itu pun terharu. Ia kemudian memberikan bantuan tambahan berupa uang. "Ini sedikit rezeki tambahan untuk Bapak. Bisa dipakai untuk beli obat atau keperluan lain," kata Jestham. Bapak itu langsung mengucapkan terima kasih berkali-kali. Matanya berkaca-kaca. "Semoga Tuhan panjangkan umurnya ya," doanya.

Sebelum berpisah, Jestham mengingatkan Bapak itu agar selalu menjaga kesehatan. Bapak itu berniat akan mengirimkan sebagian belanjaannya ke kampung untuk anak-anaknya. Ia pamit sambil terus mengucap syukur. Dua menit mungkin terasa sangat singkat. Tapi bagi Bapak tukang becak itu, dua menit dari Jestham telah mengubah rasa lapar menjadi kenyang, rasa sepi menjadi tersentuh, dan rasa putus asa menjadi harapan. Kebaikan memang tidak perlu besar. Yang perlu hanyalah hati yang mau melihat dan tangan yang mau memberi.







