Belanja Gratis 2 Menit untuk Sembako, Seorang Ayah Curhat soal Anak yang Merantau 4 Tahun

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Belanja Gratis 2 Menit untuk Sembako, Seorang Ayah Curhat soal Anak yang Merantau 4 Tahun

Kota Medan, Sumatera Utara - (23/02/26) Seorang Bapak tengah sibuk dengan pekerjaannya di luar minimarket ketika Jestham menghampirinya. "Pak, saya ada rezeki dari Tuhan. Belanja sembako sepuasnya selama 2 menit mau?" ujar Jestham. Bapak itu sempat bertanya heran, "Belanjaan apa?" Jestham menjawab singkat, "Sembako semuanya." Tanpa pikir panjang, Bapak itu pun mengangguk. Ia lalu dipersilakan masuk ke dalam toko. Bapak itu memperkenalkan diri, namanya Hendri.



Setelah masuk, Jestham bertanya kepada Pak Hendri soal kebutuhan rumah yang paling penting saat ini. Dengan tegas Pak Hendri menjawab, "Ya beras, minyak, sembako lah. Sembako semuanya." Jestham pun memberinya kebebasan untuk mengambil barang apa saja selama 2 menit. Begitu hitungan mundur dimulai, Pak Hendri langsung bergerak cepat. "Beras dulu, beras dulu!" teriak Jestham. Ketika Jestham bertanya di rumahnya ada berapa orang, ia menjawab empat orang. Sambil terus mengisi keranjang, ia berteriak "Keranjang, keranjang, minta keranjang!" berulang-ulang.



Suasana toko mendadak ramai. Pak Hendri terus menambah beras, minyak, dan mi instan. "Cepat, Pak! Lagi, Pak! Itu Pak, itu Pak!" teriak Jestham yang menemani hanya sambil tertawa melihat semangatnya. Sampai akhirnya Pak Hendri sendiri berkata, "Sekali-kali dapat hadiah rezeki nomplok, pasti terkejut." Ternyata selama ini ia belum pernah mendapatkan pengalaman seperti ini sebelumnya.



Setelah waktu habis, Jestham mengajak Pak Hendri ngobrol santai. Ternyata di rumah ia tinggal berempat, dirinya, istri, dan dua orang anak. Anak-anaknya sudah dewasa dan sedang kuliah di luar kota. Satu di Jawa, satu di Medan. Sudah 4 tahun lamanya ia tidak bertemu dengan mereka. "Rindu kali, gak pernah pulang," ujarnya dengan mata yang berusaha tetap tegar.



Di tengah obrolan, Pak Hendri juga bercerita tentang perubahan besar dalam hidupnya. Dulu ia menghabiskan uang Rp60.000 per hari untuk bensin, belum lagi beli oli sebulan tiga kali, dan servis seminggu sekali ke bengkel karena motor lamanya sering rusak. Kini, ia sudah beralih ke motor listrik. "Cuma ngecas sekali, jangkauannya sampai 130 km. Ngecasnya pun gratis, Alhamdulillah nggak ada potongan lagi," ceritanya bangga kepada Jestham.



Ketika Jestham bertanya apa yang paling sulit menjadi seorang ayah, Pak Hendri menjawab dengan tenang. "Dalam Islam, rezeki itu sudah ditetapkan Allah. Kita tinggal mencari. Tak ada kesusahan, semua ada kemudahan." Untuk anaknya yang ingin bekerja di Australia setelah lulus, ia hanya berpesan, "Cepat selesai kuliah dan pulang." Untuk istrinya, ia berpesan agar selalu berdoa dan jangan putus asa membesarkan anak-anak mereka.



Sebelum berpisah, Jestham merasa terharu dengan perjuangan Pak Hendri sebagai seorang ayah yang merindukan anak-anaknya. Jestham pun memberikan tambahan rezeki berupa uang tunai. "Pak, ini tambahan dari saya. Semoga bisa membantu atau sekadar dikirimkan untuk anak-anak ya," ujar Jestham. Pak Hendri tertegun sesaat, matanya kembali berkaca-kaca. Ia tak menyangka masih mendapat rezeki tambahan di luar belanja tadi.



Pak Hendri pun mengucapkan terima kasih dengan tulus. "Semoga Tuhan membalas kebaikan Mbak Jestham," ucapnya. Ia pun pulang dengan senyum lebar, membawa sembako dan rezeki tambahan untuk keluarga tercinta. Sebuah pertemuan singkat yang penuh makna, mengingatkan kita bahwa berbagi berkah tidak harus besar. Cukup dari hati, rezeki akan terasa lebih indah ketika dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.