"Cukup Sekadar Rezeki Buat Keluarga": Haru Biru Pak Bonar, Ayah 62 Tahun yang Prioritaskan Anak di Tengah Sepinya Orderan

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

"Cukup Sekadar Rezeki Buat Keluarga": Haru Biru Pak Bonar, Ayah 62 Tahun yang Prioritaskan Anak di Tengah Sepinya Orderan

Kota Medan, Sumatera Utara - (25/05/26) Sepinya jalanan tak selalu berarti sepi dari keberkahan. Pak Bonar, seorang tukang becak berusia 62 tahun. Badannya yang mulai renta tak menyurutkan semangatnya untuk menarik becak demi menyambung hidup. Namun, hari itu nasib berkata lain. "Nunggu ada sewa," jawabnya lirih saat ditanya oleh Jestham yang mendatanginya. Tanpa basa-basi, Jestham menawarkan sebuah rezeki, "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan untuk belanja sembako di dalam. Mau?" Pak Bonar yang sedari tadi hanya pasrah menerima kenyataan, sontak mengangguk. "Boleh. Mau." Mereka pun masuk ke sebuah minimarket, memulai rangkaian kejutan yang akan menggoreskan air mata haru.



Jestham mempersilakan Pak Bonar berbelanja sepuasnya. Usia 62 tahun tak menyurutkan semangatnya, meski ia mengaku tak lagi selincah dulu. Ketika ditanya kebutuhan pokok apa yang paling penting untuk keluarganya, Pak Bonar menjawab sederhana, "Beras, minyak, gula." Ada lima orang di rumah yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap kali Pak Bonar mengambil satu barang dan berkata "cukup", Jestham selalu menambahkan. "Saya tambah lagi ya, biar puas makannya," ujar Jestham berulang kali. Dari beras, minyak goreng besar, mi instan, sabun mandi, hingga telur, semua dikumpulkan agar keluarga Pak Bonar bisa hidup lebih layak.



Yang menarik perhatian adalah sikap Pak Bonar yang terus-menerus berkata "cukup" meski jelas kebutuhannya besar. Jestham pun mengamati, "Bapaknya ngambilnya satu-satu doang dari tadi." Maka Jestham dengan inisiatif sendiri menambahkan sabun mandi, telur, dan gula. Percakapan pun beralih ke penghasilannya sebagai tukang becak. Dengan jujur ia mengakui bahwa hari itu baru empat kali tarikan. "Rp10.000, Rp10.000, Rp10.000, Rp10.000. Inilah penghasilan saya mulai dari pagi," tuturnya. "Tapi harus kita syukuri juga lah. Kalau enggak ada sewa, pusing kita."



Pertanyaan Jestham tentang kesulitan menjadi seorang ayah menjadi titik balik emosi. Mata Pak Bonar mulai berkaca-kaca. "Pertama-tama di bidang pendidikan. Saya sedih tidak bisa kasih yang terbaik untuk anak, tapi anak-anak pada mengerti tentang orang tuanya," ujarnya dengan suara bergetar. Lebih dalam lagi, Jestham bertanya apakah ia sudah makan malam. Pak Bonar menggeleng pelan. "Saya prioritaskan anak saya, keluarga saya, baru kemudian saya. Karena ada prinsip, makan tuh untuk hidup, bukan hidup untuk makan." Prinsip hidup yang luar biasa dari seorang tukang becak yang bahkan tak tahu apa yang akan ia makan malam nanti.



Ketika Jestham bertanya ingin makan malam apa, jawaban Pak Bonar benar-benar meluluhkan hati. "Saya pengennya beli makanan untuk anak saya, mie Aceh," katanya polos, tanpa memikirkan dirinya sendiri. Jestham yang mendengar itu tak dapat berkata-kata. Segera Jestham memberikan uang tunai di luar belanjaan sembako. "Nanti Bapak gunakan untuk beli mie Aceh buat anak dan keluarga," kata Jestham. Pak Bonar hanya mampu mengucap syukur, "Puji Tuhan. Semoga Tuhan berkati keluarga-keluarga yang memberi saya." Air matanya mulai menetes. Ia memperlihatkan koyo yang menempel di punggungnya. "Kadang-kadang sakit, tapi saya harus berjuang. Saya harus bertanggung jawab untuk keluarga. Saya yakin Tuhan tidak tidur."



Ucapan "Tuhan tidak tidur" itu menjadi penutup yang paling mengharukan. Setelah semua belanjaan dibayar dan diangkut ke becak, Pak Bonar tak lagi bisa menahan tangisnya. "Ini luar biasa. Ini memang campur tangan Tuhan," katanya terbata-bata. Jestham pun menguatkan, "Campur tangan Tuhan, Bapak. Puji Tuhan. Berkat untuk keluarga ya, Bapak." Kisah Pak Bonar, tukang becak paruh baya yang lebih memprioritaskan perut anak-anaknya daripada perutnya sendiri, adalah pengingat bahwa rezeki tak selalu datang dari tempat yang ramai. Terkadang, di tengah paling sepinya pinggir jalan, Tuhan sedang menyusun kejutan melalui tangan-tangan yang tulus seperti Jestham.