Kisah Jihan, Anak Pertama yang Jadi Tulang Punggung Keluarga: Dari Lomba Belanja 2 Menit hingga Pengorbanan yang Menginspirasi

Kisah Jihan, Anak Pertama yang Jadi Tulang Punggung Keluarga: Dari Lomba Belanja 2 Menit hingga Pengorbanan yang Menginspirasi
Kota Medan, Sumatera Utara - (24/06/26) Suasana di dalam salah satu gerai Indomaret tampak berbeda pada sore itu. Gelak tawa dan sorak-sorai semangat mewarnai tantangan belanja 2 menit yang diikuti oleh seorang kakak karyawan Indomaret bernama Jihan. Dengan gerakan yang gesit dan penuh percaya diri, ia berlari kecil di antara rak-rak, tangannya dengan cepat mengambil beras, minyak goreng, gula, hingga mi instan. Sesekali teriakan membahana, "Buka warung! Buka warung!", membuat Jestham dan pengunjung ikut terbawa suasana. Hingga pada akhirnya, tumpukan barang yang begitu banyak justru roboh, sebuah pemandangan yang mengundang tawa sekaligus kekaguman atas usaha dan semangatnya dalam memanfaatkan waktu yang singkat.
Namun, di balik keriuhan aksi belanja tersebut, tersimpan kisah hidup yang jauh lebih dalam dan menyentuh hati. Saat ditanya barang apa yang paling ingin dibawa pulang, Jihan menjawab dengan mantap dan polos, "Beras. Untuk mama." Jawaban singkat itu menjadi pintu pembuka bagi percakapan yang mengungkap sisi lain dari kehidupannya. Jihan bukan sekadar pekerja yang lincah, ia adalah anak pertama dari lima bersaudara yang sejak muda telah memikul tanggung jawab besar sebagai tulang punggung keluarga.

Jihan mengisahkan bahwa setelah lulus sekolah, ia sepenuhnya sadar akan peran yang harus ia jalankan. Dengan ayah yang bekerja serabutan dan ibu yang lebih dominan berjuang mengurus anak-anak, Jihan memutuskan untuk mengambil alih sebagian besar beban perekonomian keluarga. "Apapun itu, mau uang segala macam, saya yang menanggung semuanya," ujarnya dengan nada tegar. Saat ini, adik-adiknya yang masih bersekolah tersisa tiga orang, dan sebagian besar gaji yang ia peroleh dari pekerjaannya harus ia sisihkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Yang membuat kisah Jihan semakin menarik adalah kejujurannya dalam memandang sosok orang tua. Ia mengakui bahwa selama ini peran seorang ibu jauh lebih besar dalam kehidupannya dibandingkan sosok ayah. Meski demikian, ia tidak membiarkan rasa itu berlarut menjadi kebencian. Jihan memilih untuk tetap menghormati orang tuanya, apa pun keadaan mereka. "Apapun keadaan orang tua kita, semua agama pasti suruh kita menghormati orang tua. Tidak ada bilang kita harus hormat kalau dia kaya, kalau dia baik. Tetap orang tua, tanpa mereka kita juga enggak ada," tuturnya dengan bijak, memperlihatkan kedewasaan yang luar biasa di usianya.
Momen paling haru terjadi ketika Jihan diminta menyampaikan pesan khusus untuk sang ibu. Matanya mulai berkaca-kaca, dan suaranya bergetar saat ia berkata, "Ma, ini Jihan, bahagia selalu ya Ma, Jihan sayang Mama sampai selamanya. Walaupun Jihan kadang sering ribut sama Mama, Jihan tetap sayang Mama kok." Pengakuan ini membuka lembaran hatinya yang selama ini tertutup oleh kerasnya perjuangan mencari nafkah. Tak lupa, kepada adik-adiknya, ia berpesan agar selalu patuh kepada orang tua, rajin belajar, tidak bandel, dan yang terpenting, jangan pernah menjauh dari Tuhan serta selalu mengingat salat lima waktu.

Jestham yang mendampinginya pun turut memberikan apresiasi dan semangat yang mendalam. Jestham menyadari bahwa tidak semua orang di usia muda memiliki ketegaran seperti Jihan, yang rela mengesampingkan keegoisan demi kepentingan keluarga. "Banyak orang yang lebih mengutamakan dirinya sendiri, tapi kamu malahan meruntuhkan semua ego itu demi keluarga. Di masa muda bekerja dan menabung untuk keluarga, itu luar biasa," ujar Jestham dengan penuh kekaguman. Jestham juga mengingatkan Jihan untuk melangkah lebih ringan dengan memaafkan sang ayah, karena memaafkan orang tua tidak akan merugikan hidup sama sekali, justru akan membuat jalan kehidupan semakin lancar dan penuh berkah.
Setelah semua barang berhasil dihitung dan dibayar, Jestham menyampaikan salam hangat untuk keluarga Jihan di rumah. "Titip salam sama mama, Bapak, keluarga di rumah ya," ucap Jestham sembari berpamitan. Sementara itu, Jihan kembali tersenyum lebar, siap melanjutkan tugasnya sebagai karyawan yang ramah dan penuh semangat. Keranjang belanja itu bukan sekadar hasil dari tantangan 2 menit, melainkan simbol nyata dari cinta dan tanggung jawab seorang anak sulung kepada keluarganya.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa menjadi anak pertama bukanlah sekadar gelar, melainkan sebuah amanah berat yang sering kali tidak terlihat oleh mata, namun dampaknya sangat terasa bagi keutuhan keluarga. Jihan adalah representasi nyata dari jutaan anak sulung di luar sana yang berjuang dalam senyap, tetap ceria, dan terus memberi meski kadang lelah. Lantas, bagaimana pendapat Kamu tentang perjuangan Jihan? Apakah kisahnya menggugah kesadaran kita untuk lebih menghargai peran anak pertama dalam keluarga? Tetap pantau terus kanal ini untuk menyaksikan lebih banyak kisah inspiratif lainnya yang tidak kalah seru dan menyentuh hati. (18/02/26)







