Jestham Borong dan Senyum Haru di Balik Setangkai Bunga Cempaka

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Jestham Borong dan Senyum Haru di Balik Setangkai Bunga Cempaka

Denpasar, Kota Bali - (08/09/25) Di sebuah sudut, senyum lembut seorang Ibu penjual bunga cempaka menyambut kedatangan Jestham. Dialog pun terbuka dengan pertanyaan sederhana, "Berapa bunganya satu, Bu?" Dengan sikap yang jujur dan ramah, sang Ibu menjelaskan bahwa harga bunga sedang melambung tinggi, menjadi Rp3.000 per biji. Namun, dengan keramahan khasnya, Ia menawarkan harga yang lebih bersahabat, Rp5.000 untuk dua biji, jika dibeli dalam jumlah banyak. Kesabaran dan kejujurannya ini menjadi gambaran pertama dari ketulusan yang Ia miliki.



Rasa penasaran Jestham pun membawanya untuk menanyakan jumlah stok bunga yang tersisa. Sang Ibu dengan sigap menghitung dan menyebutkan ada sekitar 125 kuntum bunga cempaka yang masih tersisa. Percakapan kemudian mengalir kepada rutinitas jualan sang Ibu, yang ternyata telah menjual banyak, sekitar 300 biji, sebelum Jestham tiba. Keharuman bunga yang semerbak dan keindahan dua warnanya, kuning dan orange, menambah kesan kesederhanaan dan keindahan dalam momen ini.



Namun, di balik percakapan santai tentang bunga, kehidupan pribadi sang Ibu mulai tersingkap. Ketika ditanya tentang asalnya, Ia menyebut dirinya berasal dari Banyuwangi, Jawa, sementara suaminya berasal dari Medan. Jejak hidupnya terasa dalam dan pen dengan perjalanan. Meski terkesan sederhana, obrolan ini menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa ada lebih banyak cerita di balik senyumnya yang tegar.



Keputusan besar pun diambil oleh Jestham. Setelah menghitung total semua bunga, Ia memutuskan untuk memborong seluruh bunga cempaka milik Ibu tersebut, senilai Rp330.000. Saat uang itu diserahkan, raut wajah sang Ibu berubah drastis dari senyum menjadi terharu. "Oh, kok banyak sekali," ujarnya tak percaya. Jestham pun membalas dengan kalimat yang menyejukkan hati, "Gak apa-apa, rezeki Ibu hari ini." Dalam keharuan itu, sang Ibu mengucapkan terima kasih dan mendoakan kebaikan serta rezeki yang melimpah untuk Jestham dan keluarganya.



Air mata haru sang Ibu pun tak terbendung. Ketika Jestham bertanya, "Kenapa sedih, Bu?" jawabannya sungguh menyentuh relung hati. "Iya, saya sedih soalnya... masih ada orang yang baik sama saya." Kalimat sederhana itu mengungkap betapa sebuah kebaikan, yang bagi Jestham mungkin hal biasa, memiliki makna yang sangat dalam baginya. Kebaikan tulus itu seperti oase di tengah gurunnya kehidupan yang Ia jalani.



Lebih dalam lagi, sang Ibu membocorkan beban hidup yang selama ini Ia tanggung. Ia mengidap penyakit diabetes yang serius dan kondisi punggungnya yang mengharuskannya dioperasi hingga dua kali, dan hampir untuk ketiga kalinya. Pengakuan ini menjelaskan betapa berat perjuangan hidup yang dihadapinya. Menjual bunga di pinggir jalan bukan hanya sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk bertahan di tengah keterbatasan dan kondisi kesehatannya yang rentan.



Aksi Jestham yang memborong semua bunganya bukan sekadar transaksi jual-beli biasa. Bagi sang Ibu, itu adalah "rezeki yang tak terduga" yang meringankan bebannya sesaat. Kebaikan yang dilakukan dengan tulus ini menjadi bukti bahwa setiap pertolongan, sekecil apa pun, dapat membawa dampak yang besar bagi penerimanya.



Episode Jestham Borong kali ini bukan hanya tentang membeli semua bunga dari seorang Ibu. Ini adalah sebuah potret nyata tentang bagaimana kebaikan hati bisa menyentuh kehidupan seseorang dengan cara yang paling tak terduga. Di balik senyum lembut dan ketegaran sang Ibu penjual bunga, tersimpan cerita pilu tentang perjuangan melawan penyakit dan kerasnya kehidupan. Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap orang yang kita temui mungkin sedang memikul beban yang berat, dan sedikit kebaikan kita bisa menjadi cahaya yang menerangi harinya.