Rezeki Tak Pernah Salah Alamat: Harunya Pertemuan Jestham dengan Ibu Ojol Penggemar Setianya

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Rezeki Tak Pernah Salah Alamat: Harunya Pertemuan Jestham dengan Ibu Ojol Penggemar Setianya

Kota Medan, Sumatera Utara - (29/01/25) Jestham yang sedang melintas tanpa sengaja melihat seorang Ibu ojek online paruh baya bersama dua anak lelakinya yang masih kecil. "Ibu, masih ingat saya?" sapa Jestham ramah. Ibu itu pun menoleh dan menjawab dengan senyum karena masih mengingat Jestham. Tanpa membuang waktu, Jestham segera saja mengajak ibu tersebut untuk ikut berbelanja bersamanya. "Saya ada rejeki dari Tuhan belanja dua menit, mau nggak?" tawar Jestham. Mata Ibu itu langsung berkaca-kaca, belum sempat berkata apa-apa, haru sudah menyelimutinya. "Belum apa-apa kok sudah sedih. Kita belanja ya, kebutuhan rumah ya, semuanya ya," ucap Jestham menenangkan. Ibu itu pun mengiyakan, ditemani oleh dua anak lelakinya yang masih kecil dan selalu setia mengikutinya kemanapun ia pergi.



Suasana belanja pun berlangsung hangat dan sedikit canggung karena anak-anak ibu itu malu-malu untuk masuk ke dalam minimarket. Jestham dengan telaten menemani mereka berkeliling, memasukkan berbagai kebutuhan pokok seperti susu anak, sabun mandi, hingga kebutuhan dapur lainnya ke dalam keranjang belanja. Ibu itu hanya bisa terharu dan sesekali menyeka matanya. Di sela-sela belanja, Jestham menawarkan minuman kemasan untuk menyegarkan tenggorokan Ibu itu. Sederhana, namun penuh perhatian.



Jestham mengobrol santai dengan ibu itu. Ternyata ia seorang pengemudi ojek online. Setiap hari ia harus membawa kedua anaknya karena tidak ada yang menjaga di rumah. Suaminya bekerja sebagai kuli bangunan. Pendapatannya sebagai pengemudi ojol tidak menentu, seringkali hanya puluhan ribu rupiah per hari. Namun ia tetap menjalani semuanya dengan sabar.



Ibu itu juga bercerita tentang pengeluarannya setiap bulan. Ia harus membayar uang sekolah anaknya yang masih SMP, biaya sewa rumah kontrakan, listrik, air, dan uang jajan anak-anak. Meskipun berat, ia tetap bekerja setiap hari. Bahkan saat hujan pun ia tetap berangkat dan sering pulang sampai jam sembilan malam. Ia melakukan semua itu demi anak-anaknya.



Jestham lalu bertanya apa hal paling berat sebagai seorang Ibu. Ibu itu menjawab dengan jujur. Menurutnya, yang paling berat adalah ketika ia sakit. Karena saat sakit, anak-anaknya jadi tidak terurus dan uang jajan mereka pun jadi terbatas. Jawaban sederhana ini menunjukkan betapa besar perhatiannya kepada anak-anak. Ia rela mengorbankan kesehatannya demi anak-anaknya tetap bisa makan dan bersekolah.



Yang membuat pertemuan ini semakin terasa istimewa adalah saat Ibu itu mengaku bahwa ia adalah penggemar setia Jestham. Setiap malam ia menonton konten-konten yang dibuat Jestham. Ia tidak pernah menyangka bisa bertemu langsung dan mendapatkan kebaikan dari orang yang selama ini ia lihat di layar ponselnya. Jestham pun ikut terharu mendengar pengakuan tersebut.



Setelah selesai belanja, Jestham tidak hanya membayar semua barang belanjaan. Ia juga memberikan rezeki tambahan kepada Ibu itu untuk membantu membayar uang SPP anaknya yang masih SMP. Jestham tahu bahwa biaya sekolah adalah salah satu beban terberat yang ia ceritakan sebelumnya. Ibu itu pun semakin terharu, karena bantuan ini sangat berarti untuk meringankan pengeluarannya di bulan itu.



Sebelum berpisah, mereka saling mendoakan. Pertemuan yang terjadi secara tidak sengaja ini mengajarkan bahwa rezeki memang tidak pernah salah alamat. Kebaikan sekecil apapun akan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan, dan berbagi dengan tulus dapat membawa kebahagiaan bagi sesama.