Rezeki Tak Terduga untuk Bapak Becak: Mimpi yang Jadi Nyata

Rezeki Tak Terduga untuk Bapak Becak: Mimpi yang Jadi Nyata
Kota Medan, Sumatera Utara - (02/04/26) Sebuah momen haru kembali tercipta. Kisah ini bermula ketika Jestham dan suaminya, Koko, tanpa sengaja melihat Bapak Suwanto, seorang pengemudi becak, sedang tertidur pulas di pinggir jalan. Jestham yang dikenal kerap melakukan aksi sosial dengan cara unik dan menghibur, langsung tergerak untuk memberikan kejutan. Terlebih, mereka mengenali Bapak Suwanto sebagai sosok yang pernah ditawari beras seharga Rp200.000 oleh Koko sebelumnya.
Dengan penuh semangat, Jestham membangunkan Bapak Suwanto dan menawarkan sebuah kesempatan istimewa. "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan, belanja sembako sepuasnya mau gak?" tanya Jestham. Bapak Suwanto yang masih mengantuk dan gemetar karena tidak percaya pun menjawab, "Ya mau banget sih." Setelah berbasa-basi dan mengetahui bahwa persediaan beras di rumah sedang habis, Jestham memberikan tantangan yang mendebarkan, Bapak Suwanto diberikan waktu 2 menit untuk mengambil barang apa saja yang ada di dalam toko sembako, gratis.

Begitu hitungan dimulai, semangat Bapak Suwanto meledak. "Minyak pak, minyak pak, sini pak, cepet pak, yang banyak pak, semuanya pak!" seru Jestham sambil berlari kecil memenuhi keranjang belanjaan. Tak hanya minyak, ia juga mengambil beras, sabun, kopi, hingga obat-obatan. Dalam durasi 2 menit yang penuh berkah itu, ia berhasil mengumpulkan berbagai kebutuhan pokok dengan mata yang berbinar karena haru dan bahagia.
Usai berbelanja, Jestham membayar semua barang tersebut. Di sela-sela itu, Bapak Suwanto menceritakan kehidupannya yang jauh dari mudah. Ia memiliki empat orang anak, namun dua di antaranya meninggal saat masih bayi. Dua anaknya yang lain saat ini sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah berkat bantuan dari pemerintah. "Alhamdulillah dapat dana bantuan dari pemerintah. Kalau nggak sih, ya mana sanggup lah. Kuliah tau lah, biayanya banyak," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ketika diminta menyampaikan pesan kepada anak-anaknya, Bapak Suwanto tak kuasa menahan haru. "Anak-anak saya, ayah minta maaf. Nggak bisa membahagiakan kalian semua karena faktor keadaan kerja ayah. Ayah minta maaf sebesar-besarnya. Semoga kalian nanti kelak, jangan seperti ayah," pintanya dengan suara bergetar. Jestham pun segera menenangkan dan memberi semangat, bahwa Bapak Suwanto sudah luar biasa karena tetap bertanggung jawab dan berusaha meski dalam keterbatasan.
Bapak Suwanto juga mengakui bahwa kesehariannya serba pas-pasan. Makan bersama keluarga hanya dengan mi instan, karena uang di kantongnya hanya tersisa Rp5.000. "Demi Allah, nggak ada lagi. Cuma ini di kantong, nggak ada lagi," tuturnya jujur. Ketika Jestham bertanya, jika diberi rezeki tambahan, lauk apa yang ingin dibawa pulang, dengan mata berbinar ia menjawab, "Saya belikan ayam atau daging untuk anak istri saya." Ucapan sederhana itu langsung membuat suasana semakin mengharukan.

Sebelum berpisah, Bapak Suwanto tak henti mengucap syukur dan doa. "Hanya Allah yang balas ya, Ci. Saya cuma terima kasih banyak ya Allah. Hanya engkau lah ya Allah yang bisa membantu hamba ya Allah dan perantaranya ya Allah," doanya dengan khusyuk. Aksi mulia oleh Jestham ini sekali lagi menjadi sorotan publik karena memberikan pelajaran penting bahwa berbagi tidak harus rumit atau mahal, tetapi dapat dilakukan dengan cara yang sederhana namun berdampak besar. Pertemuan singkat itu mengajarkan bahwa sebotol minyak atau sekarung beras bisa mengubah mimpi buruk seseorang menjadi mimpi indah yang nyata.







