Sandal Lepas, Hati Terikat: Ketika Jestham Memeluk Haru Seorang Bapak Penjaga Parkir

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

Sandal Lepas, Hati Terikat: Ketika Jestham Memeluk Haru Seorang Bapak Penjaga Parkir

Kota Medan, Sumatera Utara - (12/05/26) Ada pertemuan yang tak pernah direncanakan, namun meninggalkan kesan yang begitu dalam. Itulah yang dirasakan Jestham ketika bertemu dengan seorang bapak penjaga parkir di depan minimarket. Langkahnya segera terhenti ketika melihat raut wajah bapak itu yang tampak lelah namun tetap tegar menjalani hari. Tanpa ragu, Jestham menghampiri dan menyapa dengan lembut, "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan. Kita belanja sembako sepuasnya di dalam, mau nggak?" Seketika raut wajah bapak itu berubah. Ada keterkejutan, ada kesedihan, namun juga ada kebahagiaan yang bercampur menjadi satu. "Pas kali, beras sisa sekilo lagi di rumah," ucapnya lirih, seolah doanya baru saja terjawab.



Jestham tersenyum dan berkata dengan penuh makna, "Kata orang kan, Pak, kita harus berbuat baik agar kita bisa bertemu dengan orang baik. Kebaikan yang nggak kita sangka itu bisa mendatangkan rezeki yang tak terduga, ya Pak." Bapak itu hanya bisa mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. Jestham kemudian menjelaskan aturan mainnya, selama dua menit, bapak itu boleh mengambil apa saja yang dibutuhkan di dalam minimarket. Begitu waktu dimulai, bapak itu langsung bergerak cepat. Ia mengambil beras, minyak, telur, dibantu oleh Jestham yang tak kalah sigap.



Di tengah momen penuh semangat itu, terjadi sesuatu yang lucu. Jestham yang berlari kesana-kemari mengarahkan bapak itu, tiba-tiba sandalnya terlepas sebelah! Namun ia tak peduli. Sambil berteriak mengarahkan, "Pak, gula! Gula, Pak, cepat, Pak!" ia terus membantu mengisi keranjang. Dilanjutkan dengan sabun, kopi, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. Tawa dan semangat bercampur menjadi satu. Bapak itu benar-benar memanfaatkan waktunya dengan maksimal, mengambil semua yang sekiranya dibutuhkan di rumah.



Setelah waktu habis, bapak itu menatap keranjang yang penuh dengan mata berkaca-kaca. "Nggak nyangka jalan Tuhan seperti ini," ucapnya dengan suara bergetar. Jestham tersenyum dan mengajaknya berbincang sambil menunggu belanjaan dihitung. Di situlah cerita sesungguhnya mulai terungkap. Bapak itu menceritakan bahwa terkadang ia harus berhutang terlebih dahulu untuk bisa belanja kebutuhan pokok. Baru setelah mendapat gaji, ia bisa membayarnya. Ia hidup bersama ketiga anaknya yang masih kecil-kecil dan seorang istri di rumah. Beban hidup yang berat, namun ia jalani dengan penuh tanggung jawab.



Jestham kemudian bertanya dengan hati-hati, "Kalau anak-anak nonton, ada nggak yang pengen Bapak sampaikan?" Bapak itu terdiam sejenak. Dengan suara getir, ia mulai berbicara, "Maafin bapak ya, Nak. Nggak bisa membahagiakan kalian. Karena bapak pun terbatasnya tenaga. Hanya ini kemampuan bapak untuk kalian, anak-anakku." Air matanya jatuh perlahan. Jestham yang mendengar itu segera menguatkan, "Luar biasa loh, Pak. Bapak kerja pagi sampai malam. Mungkin kadang nggak semua keinginan bisa dipenuhi, tapi tanggung jawab bapak untuk keluarga itu luar biasa. Tuhan lihat perjuangan bapak. Jangan lupa selalu ke gereja, ya Pak. Andalkan Tuhan selalu."



Bapak itu juga bercerita tentang bagaimana hari-harinya sebagai tukang parkir. Terkadang ada orang yang tidak mau membayar, bahkan marah-marah saat dimintai uang parkir. Namun ia tak pernah mengambil hati. Ia memilih untuk tidak membalas dengan kemarahan. Jestham mendengarkan dengan penuh kagum. Ketika ditanya apakah ia ingin mengajak anak-anaknya jalan-jalan, bapak itu menjawab dengan mata berbinar, "Sangat ingin, Bu, kalau ada rezeki." Jestham pun tak tinggal diam. "Bapak, ini saya ada rezeki dari Tuhan. Mana tau nanti bisa bawa pergi anak jalan-jalan. Pasti bapak udah nggak pernah libur, ya," ucapnya sambil memberikan bantuan tambahan.



Sebelum berpisah, Jestham memberikan doa yang tulus. "Semoga berkah buat kita semua. Bapak bawa pulang ke rumah, keluarga senang, penuh damai sejahtera. Bapak juga kerjaannya lancar-lancar. Saya doakan ya, Pak." Bapak itu mengucapkan rasa terima kasihnya berulang-ulang, tak kuasa menahan haru atas rezeki tak terduga dari Tuhan yang datang melalui seseorang yang baru ia kenal. Perjumpaan mereka ditutup dengan kehangatan yang tak terlupakan.



Di balik setiap seragam parkir yang lusuh, ada perjuangan seorang ayah yang tak pernah menyerah. Sandal yang lepas, teriakan semangat, dan air mata syukur menjadi saksi bahwa kebaikan sederhana bisa mengubah hari seseorang. Semoga setiap bapak di luar sana selalu diberi kekuatan, dan semoga kita semua diberi kepekaan untuk melihat mereka yang sedang berjuang.