Satu Kerupuk, Seribu Doa: Jestham Borong Kerupuk Demi Keluarga Sang Bapak

Satu Kerupuk, Seribu Doa: Jestham Borong Kerupuk Demi Keluarga Sang Bapak
Medan Petisah, Kota Medan - (03/08/25) Di tengah hiruk-pikuk kota dan teriknya matahari, sebuah pemandangan mengharapkan tertangkap oleh lensa kebaikan Jestham dan timnya. Seorang Bapak tua terlihat dengan tekun dan penuh perjuangan memikul dagangan kerupuknya. Butiran peluh yang membasahi wajahnya dan tubuh yang terlihat letih tak menyurutkan langkahnya untuk terus berjuang. Setiap langkah yang diayunkan adalah sebuah cerita tentang ketangguhan dan cinta tanpa syarat untuk menghidupi keluarganya.
Tanpa ragu, Jestham pun mendekati Bapak tersebut. Sapaan hangat pun terjalin, “Bapak, saya mau beli kerupuk.” Dalam percakapan singkat yang penuh empati, terungkaplah perjuangan hidup yang sesungguhnya. Kerupuk itu dijual seharga Rp5.000 per bungkus, dan saat itu masih tersisa sekitar 100 bungkus yang belum terjual. Bapak itu juga bercerita bahwa dirinya telah berjualan keliling sejak 2016, dengan menggendong beban sekitar 10 kilogram, dari daerah Setiabudi. Yang paling menyentuh, semua perjuangan ini dilakukannya untuk menghidupi dan menyekolahkan enam orang anaknya.

Mendengar cerita tersebut, hati Jestham tergerak. Dengan penuh rasa simpati, dia pun mengutarakan niat tulusnya, “Kalau saya ada rezeki dari Tuhan, saya mau borong semua. Boleh enggak, Pak?” Sang Bapak yang mungkin jarang mengalami hal seperti ini pun mengiyakan dengan perasaan yang campur aduk antara syukur dan haru. Jestham kemudian menghitung semua sisa kerupuk yang ada, yang totalnya berjumlah 96 biji.
Di momen yang biasanya terjadi tawar-menawar, Jestham justru melakukan hal yang di luar nalar kebanyakan orang. Alih-alih menawar harga, dia malah memberikan uang yang lebih dari yang seharusnya. Jika totalnya adalah Rp480.000, Jestham memberikan lebih sebagai bentuk tambahan rezeki. Sang Bapak pun tak bisa menyembunyikan rasa terharu dan syukurnya. “Alhamdulillah ya Allah,” ucapnya lirih. Dia menganggap pertemuan ini adalah takdir dan rezeki yang tidak terduga, karena sudah hampir setahun tidak melewati jalur tersebut.
“Rezeki hari ini ya, Bapak ya. Semoga berguna bagi keluarga. Semangat selalu Bapak jualannya,” ucap Jestham memberikan semangat sekaligus doa sebelum berpamitan. Doa tulus itu bukan hanya untuk kelancaran rezeki, tetapi juga untuk kesehatan dan perlindungan bagi keluarga Bapak tersebut. Momen tersebut adalah sebuah gambaran nyata bahwa kebaikan dan empati masih hidup di tengah kerasnya kehidupan.
Namun, kisah ini tidak berakhir di sana. Kebaikan itu justru berlanjut dan berlipat ganda. Kerupuk yang telah diborong tersebut tidak dibawa pulang, melainkan langsung dibagikan secara cuma-cuma kepada para pengendara yang sedang berlalu-lalang di sekitar lokasi. Aksi berbagi spontan ini berhasil memecahkan kesibukan rutin jalanan dengan menebar senyum dan kejutan.
Setiap bungkus kerupuk yang diberikan berhasil menciptakan senyuman, keheranan, dan kebahagiaan di wajah para penerimanya. Entah itu mereka yang sedang berjuang mencari nafkah atau sekadar melewati hari biasa, aksi sederhana ini berhasil menyentuh hati dan menjadi cerita manis yang mungkin akan mereka ingat.
Pada akhirnya, Jestham dan timnya telah membuktikan sebuah filosofi indah, sedikit kebaikan yang tulus dapat mengubah perjalanan biasa menjadi momen istimewa yang berantai. Bapak penjual kerupuk mendapatkan rezeki dan semangat baru, para pengendara mendapatkan kejutan yang mencerahkan hari, dan semua orang yang menyaksikannya diingatkan bahwa berbagi kebaikan adalah bahasa universal yang paling dimengerti oleh setiap hati.







