Seribu Rupiah untuk Sebungkus Beras, Sejuta Makna untuk Sesama

Seribu Rupiah untuk Sebungkus Beras, Sejuta Makna untuk Sesama
Kota Medan, Sumatera Utara - (19/02/26) Jestham dengan kebiasaan yang unik dan sangat baik, ia berkeliling jalanan mencari orang-orang yang sedang berjuang mencari nafkah. Kepada mereka, Jestham menawarkan beras dengan harga sangat murah, hanya seribu rupiah. Tapi sebenarnya, niat Jestham bukan sekadar jualan. Ia ingin berbagi dan membantu dengan cara yang berbeda.
Jestham bertemu dengan seorang Bapak ojol yang sedang menunggu penumpang atau orderan. Jestham bertanya, "Pak, saya mau jual beras. Harganya seribu. Bapak mau beli?" Bapak itu bilang tidak punya uang seribu. Jestham bertanya lagi ada uang berapa. Bapak itu menjawab punya dua ribu. Jestham tetap memberikan beras itu. Ia mengambil uang dua ribu dari Bapak itu, lalu mengembalikan lembaran rupiah sambil berkata, "Ini kembalian dari Tuhan untuk Bapak." Bapak itu hanya tersenyum mengungkapkan terima kasih, mungkin bingung sekaligus haru.

Kemudian Jestham bertemu dengan Bapak lain yang anaknya sedang mondok di pesantren. Biaya pesantren anaknya 850 ribu rupiah, tapi baru terkumpul 200 ribu. Jestham langsung memberikan tambahan uang. "Ini ada tambahan rezeki untuk anak Bapak di pesantren. Semoga bisa membantu." Bapak itu mengucap syukur berkali-kali. Jestham juga menyemangati, "Bapak sehat-sehat ya. Semangat terus buat anaknya."
Selanjutnya, Jestham menghampiri seorang supir bajaj. Supir itu sedang istirahat di bajajnya. Jestham bertanya sudah berapa orderan hari itu. Supir itu menjawab baru satu kali orderan sejak jam 11 siang. Penghasilannya tidak tentu karena pakai aplikasi online. "Kalau habis bensin, terus tidak ada orderan, saya bisa rugi," begitu kurang lebih ceritanya.

Jestham lalu menawarkan beras seribu rupiah kepada supir bajaj itu. Supir itu menerimanya dengan senang sambil mengucap alhamdulillah. Tapi Jestham tidak berhenti di situ. Ia memberikan tambahan uang lagi untuk supir itu. "Ini Bapak, saya tambahin rezeki untuk Bapak hari ini," katanya. Supir bajaj itu kaget sekaligus senang. Wajahnya yang tadi tampak lelah berubah cerah. Ia terus mengucapkan terima kasih.

Setiap kali memberikan uang atau beras, Jestham selalu bilang itu "rezeki" atau "kembalian dari Tuhan". Padahal jelas, harga beras seribu rupiah jauh lebih murah dari biasanya. Jestham hanya menjual beras seribuan, tapi dampaknya besar bagi orang-orang yang menerimanya. Ia membuktikan bahwa kebaikan kecil yang dilakukan dengan tulus bisa terasa luar biasa bagi mereka yang sedang kesusahan. Mulai sekarang, yuk perhatikan orang-orang di sekitar kita. Siapa tahu, dengan hal sekecil apapun, kita juga bisa membuat hari mereka lebih baik.







