2 Menit Penuh Berkah: Seorang Ayah yang Tak Pernah Belanja Sebanyak Ini, Air Mata Haru di Indomaret

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

2 Menit Penuh Berkah: Seorang Ayah yang Tak Pernah Belanja Sebanyak Ini, Air Mata Haru di Indomaret

Kota Medan, Sumatera Utara - (01/03/26) Pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, apa yang paling dibutuhkan oleh seorang ayah yang setiap hari bekerja membanting tulang? Jawabannya sederhana, beras. Itulah yang terjadi dalam aksi berbagi kali ini, ketika seorang Bapak paruh baya dengan polosnya menjawab pertanyaan sederhana tentang kebutuhan paling penting di rumahnya. "Beras," katanya singkat, tanpa banyak berpikir.



Aksi berbagi yang dilakukan oleh Jestham ini memang selalu menghadirkan momen-momen yang tak terduga. Konsepnya sederhana, memberikan kesempatan kepada mereka yang membutuhkan untuk berbelanja di Indomaret selama 2 menit, mengambil barang-barang kebutuhan pokok sepuasnya, tanpa harus membayar sepeser pun. Dan Bapak ini, dengan semangat yang membara, langsung berlari kecil di antara rak-rak toko. "Cepat, cepat! Lagi-lagi, lagi-lagi!" teriak Jestham yang mengarahkan Bapak tersebut untuk mengambil beras, sabun, minyak, dan berbagai kebutuhan lainnya.



Ada yang berbeda dari Bapak ini. Saat ditanya apa yang paling sulit menjadi seorang ayah, matanya berkaca-kaca. "Tanggung jawab," jawabnya lirih. Dua kata yang berbicara begitu banyak tentang perjuangannya setiap hari. Usianya 54 tahun, harus menghidupi 7 orang di rumah, seorang istri, empat anak, dan orang tuanya. Ia bekerja dari pagi hingga larut malam, kadang sampai pukul 12 malam, demi memastikan keluarganya bisa makan.



Yang paling memilukan adalah ketika ia membicarakan tentang anak-anaknya. Air matanya tak kuasa ditahan. "Kenapa sedih, Pak?" tanya Jestham. "Kalau bahas anak-anak, langsung sedih," jawabnya terbata. "Maunya saya, mereka tuh jangan kayak saya. Cukup saya aja lah yang ngalaminya." Ucapan ini mewakili doa setiap orang tua di dunia, bahwa anak-anaknya nanti hidup lebih baik dari dirinya.



Bapak ini mengaku belum pernah sekalipun belanja sebanyak itu. "Saya nggak pernah belanja sebegini banyak," katanya berulang kali, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Matanya berbinar melihat semua barang yang bisa ia bawa pulang untuk keluarganya. Beras, telur, sabun, minyak, semuanya akan ia berikan kepada istri dan anak-anaknya tercinta.



Ketika ditanya makanan apa yang ingin ia bawa pulang, dengan malu-malu ia menjawab, "KFC lah." Sudah sangat lama ia tidak makan KFC, mungkin berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tapi sebagai seorang ayah, kebahagiaan anak-anak dan istrinya selalu menjadi prioritas utama. "Demi keluarga, demi semua, pentingkan pulang bawa beras, bawa telur," ujarnya. Jestham pun tidak berhenti sampai di situ. Sebagai tambahan, Jestham kembali memberikan rezeki berupa uang tunai kepada Bapak. "Ini ada sedikit tambahan rezeki untuk Bapak. Atau Bapak mau beli makanan atau apapun untuk orang rumah," ucap Jestham dengan tulus.



Aksi berbagi ini bukan hanya tentang memberikan bantuan materi. Lebih dari itu, ini tentang memberikan harapan. Tentang mengingatkan bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada tangan-tangan yang siap membantu.



Di akhir perjumpaan, Bapak itu berpesan kepada anak-anaknya, dan juga kepada kita semua, "Yang penting ayah mencari yang halal, tidak macam-macam. Belajar lah, bagus-bagus lah." Dan untuk istrinya yang telah menemani 17 tahun, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih. "Walaupun belum bisa saya kasihkan kebahagiaan yang mutlak, saya coba sampai kapan pun." Inilah makna kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang siapa yang berjuang untuk kita. Semoga kebaikan ini menginspirasi kita semua untuk terus berbagi kepada sesama.