75 Tahun Menanti Rezeki: Sebuah Pertemuan yang Menggetarkan Hati di Tengah Kesederhanaan

75 Tahun Menanti Rezeki: Sebuah Pertemuan yang Menggetarkan Hati di Tengah Kesederhanaan
Kota Medan, Sumatera Utara - (12/03/26) Tak banyak orang yang menyadari bahwa di balik hiruk-pikuk kota, masih ada para lansia yang berjuang sendiri untuk menyambung hidup. Sore itu, Jestham bertemu dengan salah satunya. "Bapak, ngapain? Bapak boleh ikutin mobil saya? Saya mau minta bantuan," ujar Jestham dengan ramah. Sang Bapak yang sudah sepuh itu sedikit bingung namun bersedia mengikuti. Ia mengikuti dengan becaknya, meskipun langkah kakinya tampak tertatih. Ketika ditanya, "Kakinya kenapa, Pak?" beliau menjawab dengan polos, "Ditabrak kereta." Sebuah kecelakaan yang sudah terjadi satu bulan lalu, namun tak menyurutkan semangatnya untuk tetap menarik becak demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Ketika sampai di sebuah mini market, Jestham memberikan sebuah tawaran yang mengubah segalanya. "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan untuk Bapak belanja sepuasnya, mau nggak?" Dengan mata berbinar, sang Bapak menjawab, "Boleh, boleh." Pertanyaan sederhana "Kebutuhan rumah paling penting apa, Pak?" dijawab dengan jujur, "Ya beras lah yang paling penting." Dari situlah belanja besar dimulai. Pria tua yang telah berusia 75 tahun itu awalnya hanya berani mengambil dua bungkus beras, dan terus mengucap syukur setiap kali diberikan izin untuk mengambil lebih banyak.

Perlahan, air mata haru mulai menggenang di pelupuk mata sang Bapak. Bukan karena banyaknya barang, melainkan karena ketulusan yang jarang ia temui. "Puji Tuhan, banyak kali rezekinya," ucapnya berulang kali, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi. Jestham pun terus menambahkan berbagai kebutuhan seperti minyak goreng, sabun, mi instan, hingga kopi dan gula. Setiap kali ditawari tambahan, beliau sempat menolak dengan santun, "Cukup, cukup, sudah banyak kali ini," namun hatinya begitu bersyukur atas setiap rezeki yang datang.
Di sela-sela belanja, terkuaklah sebuah kisah hidup yang berat. "Barulah pertama kali begini. Saya umur 75 tahun. Baru pertama kali ada yang ngasih," ungkapnya dengan suara bergetar. Ia mengaku hampir tidak percaya dengan kebaikan yang diterimanya dari seseorang yang bahkan tidak dikenal sebelumnya.

Sang Bapak lalu bercerita tentang keluarganya. Ia memiliki 6 orang anak, namun dua di antaranya telah meninggal dunia. Kini, ia harus membesarkan dan menyekolahkan cucu-cucu yang ditinggalkan. "Yang kedua, yang ketiga meninggal. Saat itu anaknya ditinggalkan, itulah sama saya tinggal," tuturnya. Ia menjelaskan beban berat sebagai seorang ayah sekaligus kakek. "Bagaimanapun anak kita itu, biar sudah berumah tangga, harus kita tanggung jawab. Kalau kita masih hidup, sehat." Prioritasnya sederhana namun mengharukan, memastikan cucu-cucunya bisa makan tiga kali sehari, meskipun ia sendiri rela tidak makan.

Pekerjaannya sebagai tukang becak pun tak lagi memberikan penghasilan yang menentu. Bahkan, ia pernah pulang ke rumah tanpa penghasilan sepeser pun. Mendengar kisah itu, Jestham kembali memberikan rezeki tambahan. "Saya ada rezeki tambahan. Semoga bisa menjadi berkat untuk keluarga ya, Bapak." Jestham pun langsung memberikan uang yang harapannya cukup untuk melengkapi kebutuhan di rumah dan dapat memperbaiki becak yang ternyata sedang butuh perbaikan. "Puji Tuhan," ucap sang Bapak haru.
Pertemuan singkat itu meninggalkan bekas yang mendalam di hati Bapak tersebut. "Sampai tua saya, sampai meninggal, tetap saya ingat yang kalian kasih itu sama saya. Belum pernah saya sudah berumur 75 tahun, belum pernah ada yang ngasih begitulah banyaknya sama saya." Ia pun tak henti-hentinya mendoakan kebaikan untuk Jestham. "Puji Tuhan sehat-sehatlah kita semua. Kalian sehat, murah rejeki, panjang umur. Keluarga semua sehat dimana-mana pun tinggal," doanya penuh ketulusan. Sebuah kisah yang mengajarkan kita bahwa memberi tidak selalu tentang jumlah, tetapi tentang kehadiran dan perhatian kepada mereka yang selama ini mungkin hanya menanti untuk dilihat dan diperhatikan.







