Jestham Borong Dagangan Ibu Penjual Kerupuk, Beri Uang Tambahan Usai Tawar-Menawar

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: youtube/@ownerjestham
Sumber: youtube/@ownerjestham

Jestham Borong Dagangan Ibu Penjual Kerupuk, Beri Uang Tambahan Usai Tawar-Menawar

Kota Medan, Sumatera Utara – (13/07/26) Hari itu tampaknya menjadi hari yang berat bagi seorang ibu penjual kerupuk. Dengan setia ia duduk di samping dagangannya yang tersisa, ditemani anaknya yang masih berusia lima tahun. Sepanjang hari, lapaknya nyaris sepi pembeli. Raut wajahnya mulai diliputi kecemasan karena penghasilan hari itu sangat tipis, sementara sang anak di sampingnya tanpa mengerti kegelisahan yang dirasakan sang ibu. Pemandangan inilah yang menarik perhatian Jestham.



Saat Jestham mendekati lapak tersebut, sapaan hangat pun terucap. Ia bertanya apakah ibu itu menjual kerupuk, dan sang ibu menjawab dengan ramah. Ibu itu kemudian mengatakan bahwa ia tahu tentang konten Jestham. Ketika Jestham bertanya bagaimana ibunya bisa mengenalnya, ibu itu menjelaskan bahwa ia sering melihat Jestham di ponselnya. "Oh, sudah nengok di HP," ujar Jestham mengangguk paham.



Jestham kemudian menanyakan kabar mereka, khususnya apakah mereka sudah makan. Sang ibu menggeleng lesu. Ketika ditanya alasannya, ibu itu menjawab dengan nada putus asa, "Sepi kali hari ini." Hari benar-benar sepi, jauh dari ramainya pengunjung yang ia harapkan untuk bisa pulang dengan membawa rezeki yang cukup. Mendengar keluhan itu, hati Jestham tergerak untuk melakukan sesuatu yang tak terduga. Tanpa pikir panjang, ia menawarkan diri untuk memborong semua kerupuk yang tersisa. "Bu, saya ada rezeki mau borong kerupuknya semua boleh enggak?" tawarnya. Mata sang ibu langsung berbinar, "Boleh. Alhamdulillah lah. Makasih banyak, Ci."



Jestham pun menanyakan harga satuan kerupuk tersebut. "Berapa sebiji, Bu?" tanyanya. Sang ibu menjawab harga per bijinya adalah Rp5.000. Jestham mengulang angka itu lalu bertanya berapa total yang tersisa. Sang ibu menghitung dan mengatakan bahwa kerupuk yang tersisa tinggal 11 bungkus, sehingga totalnya menjadi Rp55.000. Jestham kemudian mencoba menawar dengan sopan, "Boleh diskon dikit, Bu?" Dengan lapang dada, sang ibu mengizinkan. Setelah tawar-menawar singkat, sang ibu pun menyetujui harga tawaran tersebut. "Bolehlah. Enggak apa-apa. Biar cepat pulang aja," katanya ikhlas, karena ia lebih memilih dagangannya cepat habis agar bisa segera pulang bersama anaknya.



Jestham pun menyerahkan uang sesuai kesepakatan. Namun, yang membuat momen ini begitu istimewa adalah setelah transaksi selesai. Jestham kembali merogoh sakunya dan memberikan rezeki tambahan. Sang ibu pun terkejut dan tak kuasa menahan haru, menunjukkan betapa bantuan kecil ini terasa sangat besar baginya. Namun, meski dagangan ludes dan uang lebih dari cukup didapat, ada kesedihan yang sulit disembunyikan. Jestham yang memperhatikan raut wajahnya bertanya, "Ibu kok sedih, Bu?" Dengan mata berkaca-kaca, ibu itu menjawab, "Iya, sedih aja. Alhamdulillah." Ia kembali mengeluh, "Hari ini sepi kali ngeluh dari tadi. Sepi kali hari ini."


Senyum syukur tak henti terukir di wajah Ibu penjual kerupuk usai menerima kepedulian yang sangat berarti bagi keluarganya.
Senyum syukur tak henti terukir di wajah Ibu penjual kerupuk usai menerima kepedulian yang sangat berarti bagi keluarganya.

Jestham pun berusaha menenangkan hatinya dengan ucapan lembut, "Sepi kali ya. Jangan sedih lagi ya, Ibu ya. Ibu sehat-sehat ya?" Sang ibu mengangguk dan mengaminkan doa baik tersebut. Di akhir pertemuan, Jestham berpamitan dan meminta izin untuk mengambil semua kerupuk. Jestham lalu menjelaskan bahwa keluarganya sangat menyukai kerupuk, sehingga mereka sering memborong jika melihat ada yang menjual. Sebelum pergi, ia menyempatkan diri menyapa si kecil yang mulai tenang, "Adik jangan nangis lagi. Jangan sedih lagi ya. Sayang sama mamanya, ya sayang." Bocah lima tahun itu mengangguk manis. Sang ibu kembali mengucapkan terima kasih, dan Jestham pun pergi dengan membawa semua kerupuk, meninggalkan senyum serta harapan di hati mereka.


Momen penuh kehangatan saat Jestham duduk bersama dan berbagi kebahagiaan dengan anak Ibu penjual kerupuk.
Momen penuh kehangatan saat Jestham duduk bersama dan berbagi kebahagiaan dengan anak Ibu penjual kerupuk.

Hari itu, sebuah pertemuan singkat di pinggir jalan berubah menjadi momen yang tak terlupakan. Seorang ibu penjual kerupuk yang tadinya hampir putus asa karena dagangannya sepi, pulang dengan hati yang lapang dan doa yang mengiringi langkahnya. Jestham kembali diingatkan bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada rezeki yang tak terduga.