"Alhamdulillah, Baru Kali Ini Belanja Banyak" – Kisah Bapak Becak 65 Tahun yang Tak Rela Pulang Sebelum Rezeki Menjemput

oleh Ramanda Aulizabullet
Ditinjau oleh Thomas Iskandar
Sumber: tiktok/@jesicathamrin
Sumber: tiktok/@jesicathamrin

"Alhamdulillah, Baru Kali Ini Belanja Banyak" – Kisah Bapak Becak 65 Tahun yang Tak Rela Pulang Sebelum Rezeki Menjemput

Kota Medan, Sumatera Utara - (22/03/26) Malam sudah larut, namun seorang Bapak paruh baya masih terlihat duduk di pinggir jalan. Wajahnya lesu, matanya menerawang ke arah lalu-lalang kendaraan. Ia belum pulang ke rumah. Bukan karena tak ingin, melainkan karena belum mendapatkan belanjaan untuk keluarga. Saat itulah takdir mempertemukannya dengan seseorang yang ingin berbagi rezeki. "Yuk, kita masuk ke dalam belanja mau, Pak?" ajak Jestham dengan ramah. Senyum Bapak itu langsung timbul, lalu mengikuti langkah Jestham masuk ke dalam toko.



Bapak itu kemudian mengungkapkan usianya yang sudah 65 tahun. "Nggak bisa lari-lari lagi," katanya sambil tertawa kecil. Dengan tubuh yang mulai renta, ia mengaku hanya bisa pasrah dan berusaha semampunya. Ketika ditanya mau beli apa, dengan rendah hati ia hanya menjawab, "Belinya paling sekilo-sekilo," takut memberatkan. Namun Jestham terus mendorongnya untuk mengambil lebih banyak. Bapak itu pun menyebutkan bahwa di rumah ada istri, dua anak, dan tiga orang cucu yang ia cintai. Wajahnya berseri saat menyebut cucu-cucu itu, meski mata sayunya tak bisa menyembunyikan beban hidup yang ia pikul.



Setiap kali Jestham menambahkan barang ke dalam keranjang mulai dari beras, minyak goreng, gula, hingga mi instan, Bapak itu selalu berujar, "Jangan banyak, Dek. Gak apa-apa, sudah itu aja." Namun dengan sabar dan penuh kasih, Jestham terus meyakinkannya, "Gak apa-apa, Bapak, rezeki hari ini. Kita stok di rumah, ya." Hingga akhirnya, ketika belanjaan semakin menumpuk, raut Bapak itu berubah cerah. "Alhamdulillah, baru kali ini belanja banyak," ucapnya berulang kali, seolah tak percaya bahwa kiriman Tuhan datang melalui tangan seseorang yang baru dikenalnya di malam itu.



Setelah keranjang penuh, mereka mulai mengobrol lebih dalam. Jestham bertanya kenapa Bapak itu belum juga pulang padahal sudah malam. "Belum dapat belanja, beras nggak ada. Nyari penumpang," jawabnya lirih. Ternyata, beliau adalah tukang becak yang juga bekerja serabutan sebagai tukang bangunan. Penghasilannya dari becak paling banyak hanya Rp40.000 dalam sehari, itupun kalau sedang ramai. Sementara menjadi tukang bangunan ia lakukan untuk tambahan uang jajan cucu. "Kalau becak sepi, ya sudah," katanya pasrah, tapi semangatnya tak pernah padam.



Namun di balik kegigihannya, Bapak itu juga menyimpan luka fisik. Tapi setiap kali teringat keluarga, ia kembali bersemangat. "Supaya anak bisa sekolah, demi cucu bisa beli baju lebaran," ujaran itu keluar dari mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Ia bercerita bahwa cucunya tiga orang, dan ia ingin sekali membelikan mereka baju baru untuk Hari Raya. Pekerjaan kerasnya selama ini membanting tulang di bawah terik matahari dan di malam yang dingin semata-mata untuk senyuman anak cucunya.



Mendengar pengorbanan luar biasa itu, Jestham pun tergerak hatinya. "Saya ada sedikit rezeki. Mana tahu Bapak mau pakai untuk beli baju lebaran atau apa boleh ya, Bapak?" tanyanya lembut. Bapak itu sontak terharu, tak kuasa menahan air mata haru. "Ya Allah, baru kali ini lah. Senang tadi," ucapnya terbata-bata. Baginya, perhatian sekecil apa pun yang ditujukan untuk keluarganya adalah kebahagiaan yang tak ternilai. Ia memastikan bahwa apa yang ia terima akan benar-benar ia bawa pulang untuk istri dan cucu-cucu tercinta.



Sebelum berpisah, ada satu pesan penting yang disampaikan Jestham kepada Bapak itu. "Bapaknya sholat jangan ditinggal ya. Selalu sholat, selalu ingin berdoa," pesannya. Bapak itu mengakui bahwa ia kadang sholat, kadang tidak, karena ia sering kejar waktu untuk mencari nafkah. Namun nasihat itu menyentuh hatinya. Ia berjanji akan lebih rajin beribadah, karena bagaimanapun rezeki sejati datang dari Tuhan melalui cara yang tak terduga. Mereka pun berpamitan, dengan doa-doa yang saling terpanjat. "Hati-hati pak. Berkah ya Bapak," ucap Jestham.



Kisah ini mengajarkan bahwa kebaikan sekecil apa pun dapat mengubah hidup seseorang. Seorang Bapak becak 65 tahun yang nyaris putus asa karena tak punya beras untuk makan malam, pulang dengan membawa belanjaan penuh dan uang lebih untuk baju lebaran cucunya. Semangatnya yang tak pernah padam meski tubuhnya sakit-sakitan, serta kerelaannya bekerja keras demi keluarga, adalah cermin cinta yang tulus.