"Belum Pernah Belanja Seperti Ini": Air Mata Harap Seorang Bapak Tua yang Masih Setia Menanti Keluarga

"Belum Pernah Belanja Seperti Ini": Air Mata Harap Seorang Bapak Tua yang Masih Setia Menanti Keluarga
Medan, Sumatera Utara - (06/03/26) Malam larut itu dimana pintu-pintu rumah mulai tertutup rapat, seorang Bapak paruh baya masih saja belum pulang. Kerisauan pun menyelimuti hati Jestham yang bertanya, "Bapak kok udah malam belum pulang?" Jawaban sederhana namun mengharukan keluar dari mulut sang Bapak, "Belum pulang gimana lagi. Gak dapat duit." Namun, ditengah ketidakpastian itu, ada secercah rezeki dari Jestham yang memberinya sebuah tawaran istimewa untuk berbelanja sembako sepuasnya. Mata Bapak itu pun berbinar, "Bapak saya ada rezeki dari Tuhan, kita boleh belanja sembako sepuasnya, mau gak?" "Mau," jawabnya singkat, namun penuh dengan rasa syukur yang tak terucap.
Mereka pun memasuki sebuah minimarket. Tatapan Bapak itu terlihat asing. "Belum pernah belanja kayak gini," ujarnya berulang kali. Ketika Jestham bertanya kebutuhan paling penting di rumah, tanpa berpikir panjang ia menjawab, "Beras lah. Beras di rumah udah gak ada lagi." Usianya ternyata sudah menginjak 69 tahun, namun semangatnya untuk berlari demi mengisi keranjang belanja dalam durasi waktu 2 menit masih membara. "Lari masih bisa lah," katanya optimis.

Sesuai aturan, Bapak itu diberikan waktu 2 menit oleh Jestham untuk mengambil barang sebanyak mungkin. "1, 2, 3, mulai!" teriak Jestham menyemangati. "Ambil pak, Berasnya. Indomie sebelah pak... Jangan malu-malu pak. Cepat!" suara Jestham terus menggema. Ia terus mengambil telur, minyak goreng, dan gula yang sempat ia cari dengan susah payah. Ketika ia sempat ragu karena belanjaannya dianggap terlalu banyak, Jestham langsung meyakinkan, "Taruh aja Bapak, nggak apa-apa. Saya tambahin lagi ya." Sarden yang sempat terlupa pun segera disisipkan ke dalam keranjang. "Alhamdulillah," ucapnya lirih bersyukur.
Meskipun badannya renta dan pekerjaannya sebagai tukang becak serba pas-pasan, hatinya begitu mulia. Ia bahkan mengaku tidak tega jika hanya menikmati rezeki itu sendirian. Di balik semangatnya mencari nafkah hingga larut malam dan tak jarang pulang dengan tangan hampa, bahkan untuk sekedar makan, siapa sangka tersimpan sebuah luka lama yang mendalam, yakni kerinduan pada istri dan anak kandungnya yang telah puluhan tahun tak pernah memberi kabar.

Bapak itu mulai bercerita tentang anaknya yang bernama Indra. "Udah lama, udah sejak tahun 87 loh," ungkapnya. Ia hanya bisa memperkirakan bahwa saat ini anaknya yang bernama Indra berusia sekitar 34 atau 35 tahun. "Gak pernah berkabar lah gitu," keluhnya pilu. Melihat momen tersebut, Jestham pun bertanya, "Kalau Indra nonton, ada gak yang pengen Bapak kasih tau sama Indra?" Bapak itu pun tak kuasa menahan haru. Ia menitipkan pesan yang begitu dalam, "Untuk istriku sayang Sukmawati, kita udah lama berpisah, namun aku tetap menunggu dirimu. Dan anak kita Indra, semoga sehat-sehat saja dan saya selalu mendoakan kalian."
Saat ini, Bapak itu tinggal bersama adiknya dan anak-anak adiknya yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri. "Mereka tuh baik sama aku, aku pun sayanglah sama mereka. Aku pun bantu pengeluaran yang ada di rumah," ceritanya tentang caranya bertahan. Apalagi di bulan Ramadan ini, ia rela menarik becak sampai larut malam, bahkan hingga jam 10.30 atau 11.00, demi bisa membawa pulang uang. "Hari mau lebaran, saya ingin beli baju kasih mereka," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Ia bermimpi bisa membelikan baju baru dan sedikit kue lebaran untuk keponakan-keponakannya yang selama ini memberinya kehangatan keluarga.

Di akhir pertemuan yang mengharukan itu, Jestham memberikan sedikit rezeki tambahan untuk membantu membeli baju lebaran. Bapak itu hanya bisa mengucap syukur, "Ya Allah ya Tuhan, terima kasih atas rezekimu yang telah kau berikan kepada aku. Aku tidak bisa membalas apa yang diberikan oleh para dermawan ini. Kau lah yang nanti akan membalas mereka." Dengan penuh harap, Jestham pun mendoakan agar video ini bisa viral, agar mungkin suatu saat bisa sampai ke Surabaya dan dilihat oleh istri serta anaknya, Indra. Sebuah harapan sederhana dari seorang Bapak yang tidak pernah lelah menanti, "Semoga nanti ada kabar untuk istri sama anaknya ya Bapak." Ia pun pamit sambil memegang erat rezeki yang tak ternilai, bukan hanya untuk perut, tetapi untuk menyembuhkan sedikit luka hatinya yang telah lama terabaikan.







