Berburu Takjil, Jestham Borong Semua Dagangan Ibu Lalu Bagikan Gratis di Jalan

Berburu Takjil, Jestham Borong Semua Dagangan Ibu Lalu Bagikan Gratis di Jalan
Kota Medan, Sumatera Utara - Ramadan selalu punya cara tersendiri untuk menghadirkan kebahagiaan. Kali ini, Jestham punya cara unik menyambutnya. Ia berkeliling jalan mencari takjil, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk dibagikan gratis kepada orang-orang di jalan.
"Guys, jadi hari ini kita mau berburu takjil," ujar Jestham membuka videonya. Ia pun menyusuri jalanan, mencari penjual takjil. Tak lama, ia menemukan seorang ibu yang sedang menjajakan dagangannya. "Hai, Ibu. Hari ini aku mau berburu takjil, Bu," sapa Jestham ramah. Ibu itu tersenyum dan mempersilakannya memilih.

Jestham bertanya, "Takjilnya sudah terjual banyak?" Ibu itu menjawab, "Belum banyak kali sih. Masih ada seribu lebih lah kali ya." Jestham terkejut. "Seribu lebih? Banyak banget ya. Kalau saya borong semua, boleh?" Ibu itu pun mengangguk. "Boleh, boleh," jawabnya cepat. Jestham tersenyum. "Ya, kita borong ya. Habis kita borong, kita bagi-bagi di jalan."
Takjil-takjil itu pun mulai dibungkus satu per satu. Ada sekitar 38 bungkus dengan harga Rp5.000 per bungkus. Totalnya mencapai Rp1.190.000. Saat menghitung, ibu itu mengucap syukur berulang kali. "Dapat rezeki lebih, dapat rezeki lebih," ujarnya penuh haru. Jestham hanya tersenyum, lalu menyerahkan uang pembayaran.

Di tengah obrolan, Jestham bertanya, "Udah rumah tangga? Berapa anak?" Ibu itu menjawab, "Dua. Tapi udah pisah." Jestham terdiam sejenak. Lalu ia bertanya lagi, "Apa pesan-pesan yang pengin disampaikan sama anak-anak kalau anak-anak nonton?" Ibu itu menjawab dengan mata berkaca-kaca, "Semoga mereka makin baik lah, makin rajin belajar. Semangat buat kakaknya ya."
Jestham juga menyempatkan bertanya, "Ini puasa hari ke berapa?" Ibu itu menjawab, "Hari ketiga." Jestham mengangguk. "Hari ketiga. Tetap semangat ya." Setelah semua takjil dibayar dan dikemas, Jestham pun bersiap menjalankan misi berikutnya, membagikan takjil itu gratis di jalan.
"Oke, ini kita bagi-bagi di jalan dulu," ujar Jestham. Ia pun mulai menawarkan takjil kepada orang-orang yang melintas. "Bagi-bagi takjil yuk!" "Sini, Ibu." "Iya, sama-sama." "Adik, semuanya sini, sini, sini, sini," serunya ramah. Tak butuh waktu lama, takjil-takjil itu pun berpindah tangan. Ada yang menerima dengan senyum, ada yang mengucap terima kasih berbahagia.

Tak hanya kepada pejalan kaki, Jestham juga membagikan takjil kepada pengemudi ojek dan bapak-bapak yang masih berada di jalan. "Bapak, hati-hati, yuk. Yuk, gratis," ucapnya. "Hati-hati, Pak," tambahnya saat menyerahkan takjil kepada pengendara lain. Suasana sore itu pun terasa lebih hangat, bukan karena cuaca, tapi karena kebaikan yang mengalir begitu saja.
Tak lama, semua takjil habis. "Sudah habis. Next. Mau borong takjil di mana lagi ya?" ujar Jestham mengajak penonton ikut berpartisipasi. Ibu penjual takjil yang dagangannya ludes pun bisa pulang lebih cepat hari itu. "Terima kasih, Jestham," ujarnya penuh syukur. Sebuah momen Ramadan yang sederhana, namun berarti bagi banyak orang, baik yang memberi, yang menerima, maupun yang menjual.







