Borong Semua Kerupuk Bapak Penjual, Jestham Beri Kejutan Rp3 Juta

Borong Semua Kerupuk Bapak Penjual, Jestham Beri Kejutan Rp3 Juta
Kota Medan, Sumatera Utara - Di sebuah sudut jalan di Medan, seorang bapak tua terlihat sedang merapikan dagangan kerupuknya. Langkahnya pelan, tubuhnya renta. Namun ia tetap bertahan, menjajakan kerupuk dari pagi hingga malam. Hari itu, ia tak menyangka akan bertemu seseorang yang mengubah harinya.
Bapak itu adalah seorang perantauan yang mencari nafkah di Medan. Ia bercerita bahwa istrinya telah meninggal dalam sebuah kecelakaan saat anak mereka masih kecil. Sejak saat itu, ia membesarkan anaknya seorang diri. Kini, anaknya sudah tamat SMA dan tinggal bersama adik ibunya di Bandar Selamat. Bapak itu pun tinggal sendirian di rumah.
"Enggak ada ibu itu rasanya sedih ya. Kalau masih ada Mama, kan kita bisa minta tolong," ujarnya lirih. Ia mengaku hidup sendiri kini. Untuk makan pun, ia harus membeli di luar karena tidak ada yang memasak. "Pulang capek, tidur," katanya.
Bapak itu juga mengidap asam urat. Ia selalu menyediakan obat yang harganya Rp5.000 per bungkus. "Kalau kumat, seminggu sekali," ujarnya. Meski begitu, ia tetap bekerja. Dari pagi hingga jam 10 malam, ia berkeliling menjajakan kerupuk. "Cuma dapat Rp30.000, Rp50.000 jarang," ujarnya. Ia mengambil kerupuk dengan harga Rp1.000 dan menjualnya Rp2.000.
Melihat kondisi itu, Jestham pun tergerak. Ia menyampaikan niatnya untuk memborong semua kerupuk dagangan bapak itu. "Pak, saya ada rezeki dari Tuhan. Saya mau borong semua, boleh?" tanyanya. Bapak itu terkejut dan langsung mengucap syukur. "Alhamdulillah, boleh," jawabnya.
Total kerupuk yang dijual bapak itu sekitar 29 bungkus, dengan nilai sekitar Rp174.000. Namun Jestham justru menawar dengan harga yang jauh lebih tinggi. "Saya tawarnya Rp1 juta," ujarnya. Bapak itu terkejut. "Banyak kali, alhamdulillah," ucapnya. Jestham lalu bertanya, "Ini kan saya tawarnya Rp1 juta nih, Pak. Sisa uangnya untuk apa kira-kira?" Bapak itu menjawab, "Untuk perawatan, kadang-kadang kalau sakit."

Jestham pun menambahkan lagi. "Seandainya saya tambahin lagi Rp1 juta, mau untuk apa, Pak?" tanyanya. Bapak itu menjawab, "Untuk saya simpanlah." Karena tidak ada Indomaret di sekitar situ, Jestham memberikan uang tunai. "Biasanya saya belanjain sembako, tapi karena enggak ada, jadi saya kasih ke bapak aja. Bapak bisa untuk beli obat, bisa untuk simpan, bisa untuk beli makan," ujarnya. Tak hanya itu, Jestham juga memberikan tambahan lagi. "Jadi ini saya ada Rp1 juta lagi buat bapak ya," ucapnya. Total, bapak itu menerima Rp2 juta dari Jestham.
Bapak itu tak kuasa menahan haru. Tangannya dingin, matanya berkaca-kaca. "Terharu, enggak pernah saya begini," ucapnya. Jestham pun bertanya, "Kalau sakit asam urat, Bapak sendirian di rumah, gimana perasaannya?" Bapak itu menghela napas. "Sedih jugalah. Namanya kita enggak ada apa, enggak ada saudara, saudara pun jauh-jauh," jawabnya.
Di tengah obrolan itu, bapak tersebut sempat menyebutkan bahwa salatnya masih sering tinggal. Mendengar itu, Jestham pun merespons dengan penuh kehangatan. "Pak, mungkin aja Bapak masih banyak tinggal salat. Apalagi kalau Bapak rajin salat. Yang Maha Kuasa sayang banget sama Bapak hari ini. Apalagi kalau rajin berdoa, bukan untuk minta rezeki aja, supaya sehat. Karena di dunia ini kita sendirian, enggak ada siapa-siapa. Kita serahkan diri kita sama Yang Maha Kuasa," ujarnya.

Sebelum berpisah, bapak itu menyampaikan pesan untuk anaknya. "Kalau ada rezekimu, simpan yang baik dan jaga kesehatanmu ya, Nak. Nanti Bapak pun bisa jumpa dengan kamu. Jangan nakal ya, Nak. Bapak pun seorang susah. Bapak beginilah hidup, berkeliling tiap hari cari nafkah. Kamu pun harus sadar diri, jangan nakal-nakal," pesannya dengan mata yang basah. Jestham pun menutup pertemuan itu dengan doa, berharap bantuan yang diberikan. (14/04/26)







