Gadis 22 Tahun Jadi Driver Grab untuk Ayah yang Sakit, Jestham Beri Kejutan Haru

Gadis 22 Tahun Jadi Driver Grab untuk Ayah yang Sakit, Jestham Beri Kejutan Haru
Kota Medan, Sumatera Utara - Di usianya yang baru 22 tahun, Imel sudah menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja sebagai driver ojol, mencari nafkah untuk dirinya dan sang ayah yang sedang sakit.
Saat itu, Jestham menghampirinya dan menawarkan sesuatu yang tak pernah ia sangka. "Kakak, ada rezeki ini dari Tuhan. Mau belanja sembako, mau nggak?" tanyanya. Imel terkejut, namun mengangguk. Mereka pun sepakat bertemu di Indomaret tak jauh dari lokasi.
Sesampainya di sana, Jestham menjelaskan aturan mainnya. "Namanya Imel? Dapat rezeki dari Maha Kuasa. Boleh belanja apa aja yang ada di dalam sini, kebutuhan-kebutuhan rumah, selama 2 menit," ujarnya. Imel pun menyebutkan kebutuhan yang paling penting. "Minyak makan, beras, gula, telur," jawabnya. Jestham mempersilakannya bersiap. "Sudah siap? Mau peregangan dulu? Oke, kita mulai ya. 1, 2, 3, mulai!"
Dengan sigap, Imel berlari mengambil barang-barang. Beras, minyak, gula, telur, kecap, sarden, semua ia sambar dengan cepat. "Tinggal aja, Kak! Beras, Kak! Banyak, Kak!" seru Jestham memberi semangat. Di tengah kesibukan, Jestham bertanya, "Di rumah berapa orang, Kak?" Imel menjawab singkat, "Cuma dua, sama Papa." Waktu dua menit pun habis. Keranjang mereka penuh dengan berbagai kebutuhan pokok.

Sambil menunggu pembayaran, obrolan pun berlanjut. Imel bercerita bahwa ia adalah anak satu-satunya. Ibunya sudah meninggal. "Orang tua cuma Papa. Mama udah enggak ada," ujarnya lirih. Ia mengaku sudah dua tahun menjadi driver ojol. Sebelumnya, ia sempat tidak bekerja. "Karena kemarin itu kan sempat enggak ada kerjaan, di rumah aja," ceritanya.
Imel juga mengungkapkan bahwa ia bahkan sempat menyuruh ayahnya untuk tidak bekerja lagi. "Aku bilang, enggak usah kerja dulu deh. Aku aja yang kerja," katanya. Kalimat itu sederhana, namun begitu dalam. Seorang anak yang masih muda, namun sudah mengambil tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya.
Jestham pun bertanya tentang perasaannya setelah kehilangan ibu. "Gimana ya, yang awalnya punya orang tua lengkap, semuanya dicukupi, tinggal a-b-c. Rupanya udah enggak ada apa-apa, nyari sendiri," ujar Imel. Ia juga bercerita bahwa ia sering pulang kerja hingga jam 9 atau 10 malam. "Tergantung sih. Kadang kalau Papa udah nelpon pulang, ya udah langsung pulang. Mungkin karena rumahnya jauh, orang tua khawatir," tambahnya.
Jestham tersentuh mendengar semua itu. Ia pun memberikan kejutan tambahan. "Jadi kebetulan karena aku juga ada bawa barang-barangnya Jestham ini, enggak masuk promosi ya, guys. Memang kita pas kebetulan. Kakaknya bilang jangan pakai skincare, ya kebetulan aku bawa. Ini buat kakaknya," ujarnya sambil menyerahkan produk perawatan. Tak hanya itu, Jestham juga memberikan uang tambahan. "Ada sedikit rezeki buat kamu karena kamu luar biasa banget. Kerja dari pagi sampai malam, enggak kenal capek, enggak kenal lelah. Semoga berguna untuk kamu dan juga Ayah yang ada di rumah," ucapnya tulus.

Imel tak kuasa menahan haru. Tangannya dingin, matanya berkaca-kaca. "Dingin kali tangannya," ujar Jestham. Imel pun menyampaikan niatnya. "Boleh enggak uang ini untuk dimasak terus aku bagi-bagi?" tanyanya. Jestham tersenyum. "Boleh banget," jawabnya. Imel mengaku memang sudah ada niat untuk memasak dan berbagi dengan orang lain.
Di hadapan kamera, Imel menyampaikan pesan untuk ayahnya. "Sehat-sehatlah, karena masih butuh orang tua. Aku masih butuh doa Papa," ucapnya singkat. Ia juga menyampaikan sesuatu untuk ibunya yang telah tiada. "Enggak pernah sampaikan ke Mama. Jangan terlalu baik sama orang, karena enggak semua orang itu bisa dibaikin," katanya. Jestham pun menimpali dengan bijak. "Jangan pernah takut untuk terlalu baik dengan orang lain, tapi takutlah untuk tidak baik sama orang lain. Karena kalau kita baik sama orang, mungkin aja orang itu bisa mengecewakan kita. Tapi Sang Pencipta melihat hati, bukan melihat apa yang di luar," ujarnya. Imel mengangguk, matanya masih berkaca-kaca. Baginya, hari itu adalah hari biasa yang sedikit berbeda, ia tetap bekerja seperti biasa, namun dengan bekal yang lebih dari cukup untuk beberapa hari ke depan. (18/05/25)







