Rp280.000 untuk Pulang ke Kampung: Kisah Harap Bapak dari Duri

Rp280.000 untuk Pulang ke Kampung: Kisah Harap Bapak dari Duri
Kota Medan, Sumatera Utara - (16/03/26) Di sudut jalan yang ramai kendaraan, seorang Bapak paruh baya dengan keterbatasan fisik masih teguh mencari rezeki. Langkahnya tertatih, kakinya lemah sejak lahir, namun semangatnya tak pernah padam. Jestham menghampirinya dan memulai percakapan sederhana yang berubah menjadi kisah menyentuh hati.
"Bapak dari mana?" tanya Jestham dengan ramah. "Dari Duri," jawab Bapak itu singkat. Duri, sebuah kecamatan di Kabupaten Bengkalis, Riau, dikenal sebagai daerah kaya minyak bumi. Namun, bagi Bapak ini, rumahnya di sana adalah kenangan yang lama tak bisa ia jenguk. Kini, ia tinggal di perantauan bersama keponakannya, satu-satunya keluarga yang menemaninya.

Jestham kemudian melontarkan pertanyaan yang lebih personal, "Kakinya kenapa, Pak?" Dengan polos dan tanpa beban, Bapak itu menjawab, "Dari lahir." Sejak awal kehidupannya, ia sudah harus berjuang melawan keterbatasan fisik.
Mendengar kisah itu, Jestham tergerak hatinya. Lalu ia berkata, "Saya ada rezeki dari Tuhan. Ini diterima boleh, Bapak?" Sambil memberikan sesuatu, Jestham tersenyum. "Iya, Alhamdulillah," sahut Bapak itu dengan mata berbinar. "Sama-sama, Bapak," balas Jestham. Ya, Jestham merasa bahwa rezeki yang ia peroleh bukan sepenuhnya miliknya, ada sebagian yang memang harus ia bagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Namun, tak lama setelah itu, Bapak itu menyampaikan kabar duka. "Oh, mama baru meninggal," ucapnya lirih. Jestham pun terkejut dan segera mengucapkan belasungkawa, "Turut berduka cita ya, Pak. Belum bisa pulang kampung?" "Iya, karena saya nggak punya ongkos," jawab Bapak itu.

Jestham bertanya berapa biaya yang diperlukan untuk pulang ke Duri. "Rp280.000," jawab Bapak itu. Angka yang mungkin terbilang kecil bagi sebagian orang, namun terasa begitu besar dan berat bagi seseorang dengan penghasilan yang tak menentu. Rp280.000 menjadi tembok pemisah antara dirinya dengan kampung halaman, antara dirinya dengan kesempatan terakhir melihat sang ibu sebelum dimakamkan.
Jestham pun berpesan dengan penuh haru, "Semoga rezeki yang saya kasih tadi bisa untuk pulang kampung ya, Bapak. Bapak sehat-sehat ya. Pulang kampung ya, Bapak?" Bapak itu hanya mengangguk dan menjawab, "Iya." Jestham kemudian pamit, "Oke, saya permisi ya, Bapak." Percakapan singkat itu berakhir, namun meninggalkan makna bahwa kebaikan sekecil apa pun bisa menjadi harapan bagi mereka yang sedang dilanda duka dan kesulitan.







