Tawar Rp1 Juta untuk Dagangan Rp100 Ribu, Bapak Penjual Asongan Ini Tak Kuasa Menahan Haru

Tawar Rp1 Juta untuk Dagangan Rp100 Ribu, Bapak Penjual Asongan Ini Tak Kuasa Menahan Haru
Kota Medan, Sumatera Utara - Seorang bapak penjual asongan terlihat sedang merapikan dagangannya di pinggir jalan. Dagangannya sederhana, ada tisu, kacang, dan air mineral. Harga per bijinya pun mulai dari Rp1.000. Hari itu, ia tak menyangka akan bertemu seseorang yang mengubah harinya.
Bapak itu bercerita bahwa ia baru saja diminta pindah ke lokasi tersebut agar pembeli lebih mudah menjangkaunya. "Tadi suruh ke sini biar agak gampang belinya, maaf ya, Pak," ujar Jestham. Pagi itu, dagangannya baru terjual sekitar 50 biji. "Agak mendung sikit, jadi baru 50-an," katanya.
Obrolan pun berlanjut. Jestham bertanya tentang keluarganya. Bapak itu mengaku memiliki lima anak. "Yang satu sudah berkeluarga, yang empat lagi masih sekolah. Kebetulan anak saya ada kuliah," ujarnya. Ia pun menyebutkan bahwa tiga anaknya sedang kuliah. Satu sudah lulus di UIN Sumatera Utara, satu lagi di USU Fakultas Sastra, dan satu masih semester enam.

"Luar biasa banget ya anaknya kuliah semua," ujar Jestham kagum. Bapak itu hanya tersenyum. Ia mengaku penghasilannya tidak menentu. "Enggak bisa dibilangin lantaran memang jualannya serabutan. Paling sedikitnya ya, sekarang cuman Rp90.000," ujarnya. Itu pun belum dipotong modal.
Jestham pun menyampaikan niatnya untuk memborong semua dagangan bapak itu. "Ini ada berapa, Pak? Sekitar 50 ya? Ya udah deh, saya beliin untuk anak-anak packing saya, boleh, Pak?" tanyanya. Bapak itu mengangguk. "Boleh," jawabnya singkat. Total dagangan yang diborong sekitar 50 biji dengan harga Rp100.000.
Namun Jestham justru menawar dengan harga yang jauh lebih tinggi. "Rp100.000, tawar dikit boleh, Pak? Boleh. Tawarnya Rp1 juta," ujarnya. Bapak itu langsung terkejut. "Astagfirullahalazim," ucapnya. Jestham pun bertanya, "Apa perasaannya, Pak, ditawar Rp1 juta?" Bapak itu terdiam sejenak. "Enggak terpikir tadinya. Aku pikir tadi hanya suruh ke depan, beli ini," jawabnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Jestham memperhatikan matanya yang basah. "Kenapa matanya sampai berkaca-kaca, Pak?" tanyanya lembut. "Rezeki itu kan namanya tiba-tiba gini kan. Jadi ya terharu," ujar bapak itu. "Enggak pernah begini. Pertama kali," tambahnya. Jestham tersenyum dan berkata, "Ini pertama kalinya ya."
Di tengah obrolan, bapak itu menceritakan tentang harapannya untuk anak-anaknya. "Harapan saya, orang itu jangan seperti saya lah. Ini jangan seperti saya. Saya kan namanya enggak ada ilmu. Kalau orang itu punya ilmu, ya dengan ilmu dia bisa berdiri sendiri," ujarnya. Kalimat itu sederhana, namun begitu dalam. Seorang bapak yang berjuang setiap hari, ingin anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik darinya.
Bapak itu juga bercerita tentang kecelakaan yang pernah menimpanya. Ia jatuh hingga kakinya patah. "Enggak terbayangkan ya kalau saya pikir saya enggak hidup lagi. Memang ini patah," ujarnya. Saat ditanya apa yang paling ia takutkan, ia menjawab, "Saya terbayang sama anak-anak saya. Nanti anak-anak ini gimana, enggak terurus sekolahnya." Bahkan saat sedang kesakitan, yang ia pikirkan tetap anak-anaknya.
Jestham pun menambahkan lagi rezeki untuk bapak itu. "Kalau misalnya Pak saya tambahkan Rp1 juta lagi, mau digunakan untuk apa uangnya, Pak?" tanyanya. Bapak itu menjawab bahwa ia masih ngontrak rumah dan motornya yang rusak parah akibat kecelakaan belum diperbaiki. "Saya mau betulkan keretanya," ujarnya. Jestham pun memberikan tambahan tersebut. "Ini ada rezeki. Saya lebihkan untuk bapak. Semoga berguna untuk memperbaiki kereta bapak juga," ucapnya.
Bapak itu tak kuasa menahan haru. "Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya. Mudah-mudahan saya bisa betulin motor saya besok. Mana tahu jumpa-jumpa kita di sini lagi," ujarnya dengan mata yang basah. Jestham pun menutup pertemuan itu dengan doa. "Amin, amin, amin. Bapak sehat selalu di mana pun berada. Semangat terus untuk keluarga ya, Pak," ucapnya. Bapak itu mengangguk, membawa pulang bukan hanya uang, tapi juga harapan bahwa perjuangannya tidak sia-sia. (15/06/26)







